Yang Harus Dilakukan ketika Orang ingin Berpikir Outside the Box

tips berpikir out of the box

credit : Pete Nowicki

 

Apa yang belum pernah terpikirkan di jaman sekarang?

Pertanyaan di atas menyeruak dalam sebuah obrolan malam hari di warung kopi kecil di pinggiran Jakarta, antara seorang mahasiswa yang pengin kaya dengan bisnis penerbitan kecil-kecilan, dengan rekannya sesama mahasiswa yang kebetulan punya pikiran sama. Keduanya kebetulan sedang mengelola sebuah penerbitan novel di bawah nama bendera yang sama.

“Aku sih penginnya itu ya, nerbitin novel yang nggak biasa. Supaya beda sama yang lainnya,” kata si mahasiswa.

“Persisnya gimana tuh?”, rekannya menimpali kemudian.

“Ya pokoknya beda gitulah.”

Tentu saja si mahasiswa itu benar, bahwa ada banyak sekali penerbitan di luar sana yang kebetulan juga sama-sama menerbitkan sesuatu yang diterbitkan mereka juga. Makanya pertanyaan di atas kemudian jadi relevan.

Di luar pertanyaan yang sulit dirumuskan jawabannya itu, seringkali kita dihadapkan pertanyaan sama di segala bidang. Dan karena tidak ada lagi hal baru di bawah langit, maka banyak orang yang kemudian dinasihati untuk berpikir outside the box.

Artinya sederhana: Anda, kamu, dan kita semua – atas nama kesuksesan – dituntut untuk memikirkan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan orang lain.

Supaya sukses kita harus berbeda dengan mereka. Berbedalah! Mantra semacam itu tampaknya menjadi sebuah resep mujarab yang berkali-kali ditawarkan ke orang lain. Pernah suatu kali seseorang menawari saya pekerjaan, dan dia menganjurkan saya supaya menawarkan sesuatu yang berbeda.

Katanya: “Being normal is boring. Menjadi normal itu membosankan.”

Akan tetapi meski terdengar menumbuhkan semangat sekaligus motivasi, baik konsep berpikir out of the box maupun being normal is boring sama-sama merupakan konsep abstrak yang perlu dijelaskan bentuk konkritnya. Mudah diucapkan, namun tidak mudah diimplementasikan.

Kendati susah dijelaskan, namun frasa berpikir outside the box sebetulnya merupakan bentuk metafor untuk kreatifitas.

Menurut Drew Boyd, professor bidang pemasaran dan inovasi di Universitas Cincinnati, frasa tersebut menyebar liar bagai api yang melalap semuanya, dan menjangkau banyak bidang seperti pemasaran, manajemen, psikologi, seni kreatif, teknik, dan pengembangan individu (semacam self development).

Jadi pada dasarnya kita semua pernah mendengar frasa tersebut, entah itu yang pernah diucapkan oleh seorang pembicara seminar manajemen, konsultan organisasi, maupun professor di sebuah universitas.

Boyd mengatakan lewat artikelnya itu, bahwa thinking outside the box sudah menjadi metafor yang seksi, menarik, sekaligus meyakinkan. Mungkin seperti seorang perempuan cantik yang undangan makan malamnya sulit kita tolak.

Pada dasarnya thinking outside the box bukanlah sebuah instruksi. Memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain sungguh bukan pekerjaan mudah.

Metafor bukanlah sebuah instruksi konkrit yang bisa begitu saja diterjemahkan secara gamblang. Artinya di sini kita butuh cara-cara; misalnya: bisakah cara berpikir outside the box dilatih?

Seorang individu yang berpikir di luar kebiasaan banyak orang biasanya mengembangkan dirinya dengan cara keluar dari zona nyaman yang selama ini dilakoninya, untuk kemudian membuat sebuah zona nyaman baru.

Tentu saja ada resikonya untuk Anda, namun setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakoni supaya pikiran kita tidak bekerja seperti kebanyakan orang.

1.Bergaul dengan orang-orang yang memberi tantangan untuk Anda.

Prinsipnya adalah: jangan terlalu terlena dengan orang lain yang kerap berkata bahwa Anda baik-baik saja dengan diri Anda sekarang.

Maksudnya sepele: benar bahwa mungkin Anda baik-baik saja dengan karir Anda sekarang, namun bila Anda ingin membuat gebrakan, Anda tidak bisa lagi melakukan hal sama terus-menerus seperti yang Anda lakukan sekarang.

Lakukan hal-hal di luar rutinitas yang benar-benar bisa membuat Anda takjub dan bersemangat ketika melakukannya. Mungkin dari sana Anda bisa menemukan sesuatu yang menggairahkan untuk dilakoni.

2.Buatlah sebuah bagan hidup yang Anda jalani hingga sekarang

pencapaianmu, sifat-sifatmu, dan karakteristik personalmu. Kemudian buatlah tantangan baru. Ada contoh kasus seseorang yang merasa tidak bisa menulis baik, namun dia kemudian mulai membuat blog lima tahun lalu.

Dan sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan media dengan prospek tinggi yang memberinya kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya sebagai penulis. Jadi, bisakah Anda membayangkan akan jadi apa Anda lima tahun ke depan?

3.Berpikir outside the box bukan berarti Anda harus membayangkan membuat sebuah gebrakan yang sangat jauh dari rutinitas sehari-hari.

Anda tidak perlu membentuk harapan yang jauh dari angan-angan. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mencatat keseharian dan rutinitas Anda, kemudian lakukan hal berbeda setiap minggunya.

Anda bisa pergi ke pasar, memperkenalkan diri Anda ke pedagang bawang, misalnya, dan bertemu dengan orang-orang yang tidak Anda kenal; atau Anda bisa mulai melakukan hal yang tidak biasa Anda lakukan.

Bila Anda merasa bosan melakukan sesuatu di luar rutinitas, karena merasa “itu bukan dunia gue”, maka Anda sudah terjebak di dalam kotak. Dan karena kebanyakan kotak terbuat dari karton, Anda mesti mendobraknya.

Pada akhirnya, mengembangkan diri dengan mengacu pada metafor thinking outside the box bukan sebuah konsep abstrak semata.

Ada langkah dan cara konkrit yang perlu dilakukan supaya seseorang bisa mengembangkan dirinya, sembari berambisi membuat gebrakan yang barangkali belum pernah dipikirkan orang lain.

Dan semua itu bisa dilakukan dengan cara yang logis dan mekanis. Seperti yang sudah tertulis di atas. Namun ada salah satu hal yang setiap hari kita temui namun susah penerapannya. Yaitu? Jelas bangun pagi :

Bangun Lebih Awal, Termotivasi Karenanya

Kualitas hidup dan pikiran rasanya bukan hanya ditentukan oleh bagaimana kamu mengelola emosi, melatih rasio, atau membuat rencana hidup yang terukur.

Lebih dari itu, hidup berkualitas dimulai dari hal-hal kecil. Sudahkah kamu, misalnya, bangun pagi setiap hari?

Berikut cerita salah satu teman saya : Waktu masih jadi mahasiswa perguruan tinggi di sebuah kota di Jawa Tengah, saya hampir tidak pernah bangun pagi.

Aktivitas harian saya selalu dimulai paling awal pukul sepuluh, kecuali ada jam kuliah dini yang mengharuskan saya datang jam tujuh pagi.

Hampir setiap hari saya mulai aktivitas tidur pukul tiga dini hari. Malam sampai dini hari selalu menjadi waktu sakral untuk mengerjakan aktivitas dengan teman satu asrama, mulai dari main kartu, mengerjakan tugas kuliah dengan SKS (Sistem Kebut Semalam), sampai nonton film-film blockbuster terbaru.

Baru setelah memasuki dunia kerja saya merasakan dampak buruk karena tidak terbiasa bangun pagi. Bulan-bulan awal di kantor baru, saya selalu merasa tidak segar karena memang tidak terbiasa bangun pagi.

Waktu itu karena tidak terbiasa, kewajiban bangun pagi jadi seperti paksaan. Akibatnya tubuh saya kaget dan pikiran belumlah segar ketika memasuki kantor.

Waktu itu saya berpikir, seharusnya saya membiasakan diri bangun pagi ketika masih kuliah.

Bangun pagi sebetulnya cuma hal kecil dan terkesan sepele, namun jadi satu kebiasaan yang sangat penting kalau kamu ingin mengembangkan dirimu sampai titik maksimum. Sebab menurut beberapa orang, bangun pagi bakal meningkatkan kualitas hidup serta produktivitasmu sebagai individu.

Pagi hari (sekitar pukul lima sampai enam) memang jadi waktu paling ciamik untuk menghela nafas dan merasakan kesegaran udara.

Dengan begitu pikiranmu siap untuk melanjutkan momentum aktivitas dan secara aktif tubuhmu akan terpicu untuk menghadapi tantangan yang bakal kamu lakukan seharian. Kalau kamu tidak percaya, ada banyak CEO perusahaan besar yang sering bangun pagi. Dan itu sudah jadi kebiasaan mereka.

CEO Apple Tim Cook, misalnya, konon katanya selalu memulai aktivitasnya pada pukul 4:30 pagi. Di jam tersebut dia akan mulai mengirim email ke beberapa orang. Kalau mau menyebut contoh lain, CEO PepsiCo Indra Nooyi juga selalu bangun di jam yang sama seperti Tim.

Apa sih manfaat bangun pagi? Tentu saja ada banyak, meski yang bisa saya sebutkan di sini hanya beberapa.

  • Kamu bakal jadi individu yang lebih gembira

Menurut sebuah artikel mengenai manfaat bangun pagi, orang yang bangun lebih awal cenderung lebih bahagia di dalam hidupnya. Dia akan jadi lebih bisa fokus pada hal-hal yang ingin dilakukan dalam 24 jam ke depan, dan biasanya bisa membuat kemajuan penting di dalam hidupnya.

Orang tua jaman dulu sering menasehati kita untuk bangun pagi, kalau tidak rejeki kita bakal dipatuk ayam. Tentu saja ini cuma sekedar kiasan. Namun di baliknya, nasihat macam itu ada benarnya.

Mulailah bangun pagi dengan perasaan segar, dan mulailah bekerja keras mewujudkan rencana ke depan. Orang yang telat mulai biasanya bakal ditinggalkan oleh banyak hal berharga dalam hidup.

  • Kamu akan jadi lebih sehat

Tentu kita semua selalu berharap sehat setiap saat, dan kamu juga mengharapkannya bukan? Orang yang bangun telat biasanya cenderung terburu-buru setiap pagi, dan pastinya selalu meninggalkan sarapan. Padahal sarapan penting untuk menjaga tubuhmu supaya tidak gampang lelah siang harinya.

Dengan bangun pagi setiap hari, kamu jadi punya banyak waktu untuk memakan sarapanmu, dan juga punya banyak waktu untuk melakukan kesenangan kecil seperti berolahraga ringan maupun membaca buku favorit selama 30 menit.

  • Kamu bisa melakukan lebih banyak hal

Dengan kata lain, kamu bakal menjadi lebih produktif. Ini disebabkan karena pagi hari merupakan waktu di mana pikiran dan tubuh bekerja paling efektif. Tidak ada distraksi dan kamu bisa bekonsentrasi dengan cara lebih baik.

Bila kamu adalah tipe pekerja remote, pagi hari merupakan waktu paling efektif untuk menjawab email rekanan. Jadi ada banyak hal yang bisa dilakukan di pagi hari, dan hasilnya kamu bisa melaju selangkah ke depan dalam mencapai cita-citamu.

Bermanfaat?

Share ya

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *