Yang harus dilakukan ketika kuliah agar masa depan cerah

Yang harus dilakukan ketika kuliah agar masa depan cerah

Kuliah selalu menjadi kontroversi, ada yang mengatakan kuliah tidak penting cuma teori, yang drop out lebih sukses. Apakah itu benar?

Faktanya yang drop out, gagal jauh lebih banyak. Orang-orang seperti Steve Jobs, Bill Gates bukan orang yang tidak tahu teori, mereka rajin membaca buku berkualitas.

Banyak yang gagal karena lulus kuliah kepala tetap kosong, penguasaan teorinya abal-abal. Jika begini bagaimana bisa bertahan dalam dunia kerja/bisnis yang ilmunya terus berubah dengan cepat? Terlambat jika harus learning by doing, seharusnya kita mencuri start lebih awal.

Ada juga yang mengatakan jurusan kuliah A akan lebih prospek, kaya dan menjanjikan di masa depan.

Berikut silahkan menyimak apa yang perlu Anda ketahui sebelum dan ketika kuliah :

Sebelumnya silahkan membaca : Langkah Lengkap memilih jurusan SMA sampai Kuliah

Kebingungan Memilih Jurusan dan Hal-hal yang Belum Selesai

“Jurusanku dulu manajemen, mas. Itu juga karena paksaan ibu saya. Dulu ibu saya memaksa saya mendaftar di STAN, tapi nggak masuk. Terus beliau menyarankan saya ambil jurusan manajemen.”

“Gitu ya. Terus kamu sebenarnya pengin nggak masuk manajemen?”

“Nggak pengen, mas.”

“Terus dulu pengennya apa?”

“Hubungan Internasional.”

Percakapan di atas saya alami ketika dalam perjalanan saya bertemu seorang perempuan yang baru setahun lulus kuliah dan sedang bekerja di sebuah bank nasional.

Kalau kamu lihat percakapan di atas, terasa sekali bahwa si perempuan yang saya ajak ngobrol itu adalah tipikal orang yang nurut apa kata orang tua. Artinya, dia ngikutin saja apa kata orang tuanya ketika dulu harus memilih jurusan kuliah yang mau dimasuki.

Apa kamu juga tipikal orang seperti itu?

Di lain tempat rasanya banyak juga orang yang baru lulus SMA, namun tidak tahu mereka harus kuliah di jurusan apa.

Mereka ini biasanya bakal menjawab tidak tahu ketika ditanya ingin jadi apa sepuluh tahun mendatang ketika mereka lulus kuliah dan memasuki dunia kerja. Soal-soal semacam itu biasanya memang belum selesai, dan agaknya dialami oleh banyak orang.

Orang yang tidak tahu mau ngapain dan pencapaian kayak apa yang mesti dituju biasanya kebingungan ketika ditanya “kamu mau jadi apa nanti?” Dan ya, kamu mungkin mengalami masalah serupa.

Sebetulnya ada sebuah rumusan yang tidak tertulis, tapi mujarab. Bila kamu tidak tahu apa kebutuhan dan keinginanmu, maka kamu tidak akan tahu darimana harus memulai. Jadi sebetulnya kamu harus benar-benar tahu apa yang paling kamu inginkan.

Kenapa begitu?

Sebab ada banyak contoh kasus di mana seseorang tidak mau memasuki satu jurusan kuliah, namun dia terpaksa memasukinya dengan alasan menuruti keinginan orang tua.

Tidak ada yang salah dalam hal mematuhi keinginan orang tua, toh restu orang tua tetap dibutuhkan ketika kamu ingin memulai sesuatu. Akan tetapi yang paling penting bagi kamu adalah kamu tahu bagaimana memenuhi keinginan dan cita-citamu di masa depan.

Nah, untuk menghindari kebingunan ketika memilih jurusan, dan supaya kamu tahu di mana kamu akan berada sepuluh tahun ke depan, sebaiknya kamu mulai membuat sebuah daftar keinginan yang berisi hal-hal yang kamu ingin atau tidak ingin kamu capai.

  • Mulailah dari daftar sederhana

Sebetulnya saran ini sederhana, dan sudah banyak orang yang membuat daftar cita-cita dan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.

Orang seperti itu biasanya membuat daftar sederhana yang berisi metode untuk mencapai kebahagiaan, cita-cita, memperoleh pekerjaan impian, mencapai resolusi atau bagaimana membahagiakan pasangan dalam relasi yang setara.

Membuat daftar cita-cita dan cara untuk mencapainya menjadi cara terbaik untuk merinci apa yang kamu inginkan sekarang dan di masa depan.

Jadi kamu harus mulai membeli sebuah buku catatan kecil dan tulis segala macam hal yang kamu inginkan.

  • Jadilah individu yang fleksibel dan adaptif

Adaptif dan fleksibel maksudnya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Maksudnya begini: daftar sederhana tentang cita-cita dan bagaimana cara mencapainya memang bisa membantu kamu melakukan manajemen diri, namun kamu tetap perlu melakukan evaluasi ulang untuk semuanya, terutama ketika kamu mengalami perubahan hidup.

Misalnya: kamu berencana pergi mengelilingi dunia lima tahun ke depan, dan ternyata kamu sedang hamil ketika sekarang kamu bisa mewujudkan keinginan itu; otomatis kamu perlu menunda kenginanmu pergi keliling dunia.

Dunia terus berubah, sementara takdir seringkali susah ditebak. Karena itu kita harus selalu menyesuaikan tujuan dan keinginan selaras dengan keadaan kita sekarang.

  • Jangan cuma bermimpi dan berharap

Keinginan apapun harus selalu dibarengi dengan rencana. Misalnya kamu ingin menjadi seorang diplomat tulen, maka buatlah rencana masuk akal untuk mencapai cita-cita itu.

Sederhananya, bila kamu ingin Indeks Prestasi di kampus naik, maka yang harus kamu lakukan adalah belajar lebih keras. Sesuaikanlah mimpi dan harapan dengan rencana yang kamu buat.

Tidak semua orang tahu hal apa yang paling dia inginkan, dan kalau kamu juga termasuk orang macam itu, maka yang perlu kamu lakukan sekarang adalah bertanya tiga hal kepada diri sendiri.

Yang pertama tanya hatimu apa yang paling diinginkan sekarang; kedua apa yang kamu rasakan sekarang; dan ketiga, apa yang harus dilakukan seandainya keinginan tidak tercapai walau kamu sudah membikin rencana.

Tentu saja setiap orang tidak memiliki kemampuan untuk tahu kemana nasib akan membawanya di masa depan.

Tetapi alasan seperti ini bukanlah penghalang bagimu untuk berencana. Jadi, selamat bermimpi, memilih jurusan, dan membuat rencana hidup yang bagus!

Apa sih Artinya Menjadi Pintar?

Ada satu teman saya yang kerap merasa minder karena dia merasa bukan tipe orang yang pintar dalam segala hal, baik secara akademis maupun secara pergaulan.

Dan dia sering merasa iri kepada saya karena saya lebih mudah bergaul, dan nilai IPK saya di kampus pun lebih tinggi dibanding punyanya.

Makin lengkaplah alasan dia untuk merasa iri, meski ada satu hal aneh juga: bila dia iri, mengapa dia mau berteman dengan saya?

Saya tidak bermaksud menyombongkan diri. Yang mau saya katakan di sini adalah: selalu ada saja orang yang merasa dirinya tidak pintar dan karena itu dia tidak percaya diri ketika mesti berinteraksi dengan orang lain.

Padahal soal pintar itu bukan masalah karena dia tidak pintar dari sononya, melainkan karena faktor lain.

Orang pintar biasanya identik dengan banyak hal, entah itu karena dia memang benar-benar berprestasi (IPK-nya selalu bagus, selalu juara kelas, atau selalu menempati ranking 1), atau dia pintar berkomunikasi dan karena itu pergaulannya luas.

Akan tetapi orang bisa menjadi pintar karena dia terbiasa melakukan sesuatu.

Orang yang pergaulannya luas dan komunikatif biasanya adalah orang yang memang benar-benar melatih dirinya – entah dia menyadarinya atau tidak – berkomunikasi dengan orang lain.

Tipe orang seperti itu biasanya murah senyum, terbuka pikirannya terhadap hal-hal baru, dan selalu  mampu menjadi pendengar yang baik.

Jadi pada dasarnya orang bisa menjadi pintar dalam sebuah bidang karena dia memang terbiasa melakukan pekerjaan di bidangnya.

Tidak ada orang yang pintar dalam segala hal. Orang menjadi pintar di bidang akademis karena dia tekun belajar, dan di kasus lain: orang bisa menjadi pintar di bidang penjualan karena dia mempelajari cara-cara berjualan yang baik dan melatih dirinya untuk itu.

Makanya sebetulnya nggak pintar juga nggak masalah, sebab kepintaran bukan karena anugerah atau dari sononya kamu memang sudah nggak pintar.

Yang benar adalah: kamu bisa menjadi pintar kalau kamu berusaha dengan tekun mempelajari sesuatu yang menjadi minatmu. Tetapi saya berkata seperti ini bukan berarti menyuruh kamu untuk tidak menjadi pintar. Namun jadilah pintar karena memang kamu berusaha untuk menjadi orang seperti itu.

Lalu kategori pintar merupakan sebuah nilai yang terlihat di permukaan. Pembawaan seseorang, misalnya, jadi satu nilai yang memantik anggapan pintar dalam diri seseorang.

Gayamu berbicara yang luwes dan tahu banyak hal bisa jadi menandakan bahwa kamu pintar; atau gaya berpakainmu yang kasual dan selalu bisa menempatkan diri dengan pas di segala acara juga bisa jadi tanda lain bahwa kamu adalah orang pintar.

Atau bisa jadi kamu adalah seorang yang kemampuan menulisnya luar biasa, namun kemampuan verbalnya payah, tetapi toh kamu masih dianggap pintar oleh orang lain.

Di titik ini, kepintaran tidak selalu berkaitan dengan IQ.

Sekali lagi, menjadi pintar tidaklah instan.

Satu hal penting yang perlu kamu tanamkan di dalam diri: kamu harus bisa pintar berpikir secara konsisten. Jadilah orang yang mampu berpikir menyeluruh dan hati-hati, yang berarti bahwa kamu perlu memandang keinginan dan pandangan hidupmu dengan cara visioner serta penuh pertimbangan.

Dengan cara seperti itu kamu bisa membentuk opini rasional, dan pada gilirannya kamu bisa menjadi kuat karena orang yang berpikir rasional biasanya bisa memandang hidupnya dengan lebih baik.

Bila hidupmu penuh kesulitan karena kamu merasa tidak pintar, cobalah merenung sejenak.

Menjadi pintar berarti menanam keinginan dalam dirimu untuk maju. Selain itu kamu juga perlu membuang jauh-jauh pandangan negatif tentang dirimu, sembari menantang diri setiap hari serta bersiap memecahkan setiap masalah dengan bijak.

So, kuliah bukan hanya masalah apakah jurusan kuliah ini prospek, menjanjikan, akan kaya? It’s all about attitude, your character.

Knowledge is power but attitude is everything.

Berorganisasilah

Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan ketika kuliah agar tidak menyesal. Salah satunya adalah berorganisasi. Mengapa?

Karena jangan lagi menambah 400.000 pengangguran S1 tiap tahunnya. Fakta? Yes, but so creepy

Kuliah bertahun-tahun, lulus berharap gaji 10jt/bulan. 10 jt/bulan dari hongkong? Dapat pekerjaan saja belum tentu

Apalagi ini zaman millenials, zaman orang-orang muda yang skillfull memang tapi lack of attitudes & leadership, ingin segala sesuatunya instan

Jadi apa yang harus kita lakukan? Coba refleksi diri sendiri, jika selama ini kuliah hanya setor muka, pulang, nongkrong tidak jelas, haha hihi, besok begitu lagi sampai lulus, jangan harap bisa bertahan didunia luar nantinya

Kita harus terbiasa susah dan “sakit” karena berarti disaat itulah kita diluar zona nyaman kita, kita sedang belajar sesuatu yang baru, kualitas diri kita sedang berkembang dan inilah yang akan menjadi nilai tambah kita nantinya

Kuliah hanya sekali seumur hidup, waktu tidak akan bisa terulang. Momentum ada ditangan kita

Dosen saya bercerita di era tahun 1970-1990 an, masa kuliah bisa 7-11 tahun baru lulus, tapi ketika lulus, orang-orang fresh graduate tersebut memiliki karir yang cepat sekali menanjaknya.

Mengapa? karena mereka sudah terbiasa susah dari kuliah.

Terbalik dengan zaman sekarang, yang lulus cepat tapi waktu kerja jadinya biasa saja, tidak ada nilai tambah yang terlalu wah.

Kabar baiknya kita bisa mengakali ini, caranya? Dengan mengikuti organisasi ketika kuliah.

Merasa tidak pandai berorganisasi, susah berkomunikasi, suka tidak sreg dengan orang, mudah capek menghadapi masalah, tidak pandai dalam manajemen waktu dan sebagainya!? .

Justru karena itu kita harus berorganisasi, keluar dari zona nyaman kita dan push diri kita mencoba dan belajar hal baru.

Bodo amat? Justru Anda yang rugi. Apalagi masih disemester awal. Kenapa tidak mencoba sesuatu yang baru seperti join Senat/BEM, UKM-UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa)? Aneh jika kita tidak suka teori tapi tidak mau mencoba praktek melalui organisasi. Tidak ada yang hebat disini, kita semua belajar, untuk itu kita kuliah bukan?

So, belajar & berubah atau punah? Bukan masalah jago/bisa atau tidak tapi mau belajar atau tidak.

Rasanya baru masuk SMA sekarang sudah semester 3. Kemarin memulai kuliah sekarang sudah semester 5. Tanpa terasa sebentar lagi kita akan lulus dan menhadapi kenyataan didunia profesional nanti.

Pertanyaannya apa yang sudah kita persiapkan?

Seorang psikolog Angela Duckworth dalam bukunya The Grit menemukan bahwa orang yang aktif organisasi semasa sekolah akan lebih sukses nantinya.

Mengapa? Karena orang yang aktif tersebut sudah terbiasa susah sejak dulu sehingga selangkah lebih maju dibanding ribuan anak kampus yang ada.

Mereka melakukan hal yang benar sehingga ketika lulus kuliah masa depan mereka lebih cerah. Bukan karena jurusannya, tetapi kembali lagi ke karakter masing-masing pribadi. Orang yang aktif belajar diorganisasi karakternya akan lebih terasah.

Benang kehidupan masih sangat panjang. Connecting the dots kata Steve Jobs.

Steve Jobs ketika drop out, Beliau mengikuti kursus kaligrafi yang akhirnya ilmu tersebut terpakai ketika Beliau mendesign apple ciptaanya.

Tidak ada yang tahu apa yang kita pelajari sekarang, orang baru yang kita temui sekarang bisa berdampak dikehidupan kita bertahun-tahun kemudian. Mungkin jadi partner bisnis, koneksi, bahkan jodoh nantinya? Who knows?

Kuliah itu masih wonderland, tidak ada apa-apanya dibanding dunia professional nanti

Jangan gampang-gampang capek, menyerah, malas.

Jika waktu kuliah saja menyerah bagaimana waktu kerja apalagi bisnis nantinya?

Seorang pebisnis sukses, Robert T. Kiyosaki mengatakan “Winners are not afraid of losing. But losers are. Failure is part of the process of success. People who avoid failure also avoid success.”

Kegagalan adalah hal yang wajar, karena itu kenapa tidak menghabiskan jatah gagal semasa muda? Di masa-masa beban belum terlalu banyak inilah justru kita harus belajar dan merasakan yang namanya gagal dan susah.

Kegagalan membuat seseorang semakin bijak karena sudah belajar banyak dari gagal tersebut. Diri kita akan banyak terupgrade sehingga kita lebih mudah dalam mencapai tujuan hidup kita nantinya.

Jadi begitulah sekilas contoh dalam perkuliahan yang bisa Anda ambil. Jangan cuma mengikuti yang biasa dilakukan orang-orang karena hanya akan menjadi orang biasa.

Anda hanya mahasiswa kupu-kupu (kuliah – pulang)? Cobalah organisasi, belajar susah dari kuliah, ketika kerja kita sudah beberapa lebih maju dari orang lainnya. Hal-hal seperti team work, leadership, communication skill, problem solving justru banyak didapat ketika organisasi bukan ketika di kelas. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.

Coba hal baru, keluar dari zona nyaman kita, memang sakit tetapi hasil tidak akan pernah mengkhianati prosesnya.

Hanya saja jangan lupa prioritas hidup, jangan sampai organisasi mengacaukan nilai kuliah Anda, menyeimbangkan hidup itu perlu

Untuk Anda yang aktif berorganisasi, coba belajar hal-hal lain juga yang menantang diri Anda. Seperti belajar kaligrafi, siapa yang tahu ilmu Anda tersebut bisa terpakai seperti Steve Jobs nantinya?

Belajar itu Tidak Mudah, Tapi Bisa Disiasati

Sering kita dengar slogan yang rasanya selalu bikin bersemangat: “bukan jenius yang bikin kita sukses, tapi ketekunan. 95 % ketekunan, 5 % bakat,” katanya.  Rasaya kita semua pernah mendengar slogan sejenis, meski angkanya bisa beda.

Semua orang cenderung percaya slogan macam itu, tetapi belum tentu setiap orang mau tekun mengerjakan sesuatu. Dalam hal belajar, misalnya, kamu tentu pernah mengalami kesulitan belajar.

Entah itu karena kamu malas belajar, atau memang tidak ada yang membuat kamu bersemangat belajar. Pendek kata, belajar itu membutuhkan motivasi dan ketekunan. Bagaimana bisa sukses memperoleh nilai bagus di sekolah atau kuliah, kalau kamu tidak bersemangat dan tekun belajar?

Jadi pertama-tama yang dibutuhkan seseorang untuk sukses adalah belajar.

Dan kamu harus tahu, mempelajari sesuatu (apapun itu) berarti siap menggunakan otak dan pikiran semaksimal mungkin. Situs Lifehack pernah menulis prinsip belajar yang bagus, katanya: “makin sering kamu menggunakan otakmu, makin bagus kinerjanya”.

Ibaratkanlah otak seperti pisau yang perlu diasah. Pisaumu bisa semakin tajam hanya bila otakmu diasah dengan baik.

Sampai di sini kamu mesti memahami rumus berikutnya: belajar berarti menggunakan pikiran semaksimal mungkin. Jadi kamu tidak boleh malas dalam belajar, atau otakmu akan tumpul.

Tetapi yang saya bicarakan di sini baru sampai pada tahap konsep, belum sampai pada tahap praktik. Belajar itu tidak mudah, namun bisa dilakukan secara efektif. Nah, begini caranya belajar dengan cara efektif:

  1. Cari tahu gaya belajar macam apa yang paling sesuai denganmu

Pada dasarnya belajar hanya melibatkan tiga macam aktivitas: melihat, mendengar, dan melaksanakan. Kalau kamu merasa kesulitan belajar, luangkan waktu sejenak untuk berpikir apa yang sudah kamu dapatkan di kelas.

Apakah guru atau dosenmu memberikan esei yang gampang dipahami? Atau apakah gurumu yang lain mengajarkanmu dengan praktik? Atau apakah seorang dosen memberikan sebuah handout yang bisa kamu pahami dengan baik?

Setelah kamu tahu metode macam apa yang membuatmu bisa mempelajari sesuatu dengan baik, selanjutnya proses belajar bisa lebih mudah dilakukan. Kebanyakan orang bahkan bisa memahami sesuatu dengan menggabungkan beberapa metode gaya belajar.

  1. Hindari distraksi ketika belajar

Beberapa orang tidak bisa belajar sementara perhatian mereka teralihkan oleh hal lain. Bila kamu adalah tipe seperti itu, sebaiknya singkirkan musik, ponsel pintar, dan jauh-jauhlah dari teman yang mengalihkan perhatianmu ketika belajar.

Lalu tempatkan dirimu di sebuah ruangan sepi, supaya kamu bisa berkonsentrasi. Taruhlah benda-benda seperti ponsel pintar di dalam tas, atau taruh benda itu jauh-jauh dari jangkauanmu.

  1. Gunakan tanganmu untuk mencatat

Aktivitas tangan bisa memberi pemahaman lebih.  Misalnya: buatlah catatan ketika gurumu menjelaskan sesuatu di depan kelas. Dengan demikian kamu bisa mengingat hal lebih banyak.

Sebab orang yang sering mencatat biasanya memiliki memori yang bagus. Orang yang sering mencatat bisa belajar lebih banyak hal, sebab informasi yang diperoleh lebih lama menempel di dalam pikiran.

Selain mencatat, kamu juga bisa merekam apa yang dikatakan guru/dosenmu di depan kelas.

Gunakan perekam dan alihkan konsentrasimu untuk mendengarkan apa yang dipaparkan gurumu. Kemudian catat apa yang penting dari rekaman yang sudah kamu buat.

Cara semacam ini (menyimak sekaligus menulis) konon katanya akan membantu kamu belajar lebih efektif. Lagipula, cara seperti ini akan berguna bila kamu adalah tipikal orang yang tidak bisa belajar dengan cara membaca saja (karena kamu suka bergerak dan melakukan sesuatu sambil belajar).

Terakhir, jangan lupa siapkan ruangan yang nyaman untuk belajar. Mungkin kamu bisa menata ruangan sedemikian rupa (meletakkan wewangian, mengatur meja dengan baik) supaya kamu bisa belajar dengan konsentrasi penuh.

Ya, belajar itu tidak mudah. Kamu perlu siasat supaya belajar bisa jadi aktivitas menyenangkan dan tidak membosankan.

Dan bila kamu sudah bisa belajar dengan baik dan tekun, yakinlah bahwa dirimu akan berkembang dan kamu akan memperoleh lebih banyak pengetahuan yang tentu saja akan berguna bagi masa depanmu kelak.

Apa pendapatmu? Sampaikan melalui komentar dibawah..

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *