Untuk apa saya hidup? Apa arti hidup yang sesungguhnya?

Untuk apa saya hidup? motivasi hidup, tujuan hidup

Untuk Apa Saya Hidup?

Apa arti hidup yang sesungguhnya?

Pertanyaan ini mungkin sudah seringkali kita tanyakan dalam hidup kita. Untuk apa saya hidup? Bisa mudah dijawab, bisa juga susah dijawab. Tapi pertanyaan ini bisa dibilang merupakan pertanyaan terpenting dalam hidup kita.

Tanpa memiliki jawaban yang jelas, tidak mungkin kita bisa menjalani kehidupan dengan baik. Hidup itu sekali dan singkat sekali.

Anak yang masih kecil, berpikir, membayangkan jika sudah berumur 19 tahun bagaimana ya? Masih lama juga, dan ketika sudah 19 tahun, dia hanya bisa bergumam yah sudah lewat.

Masa hidup manusia zaman ini hanya sekitar 70-80 tahun, padahal zaman dulu bisa mencapai 90-100 tahun. Jangan-jangan di masa depan hanya tinggal 50-60 tahun saja.

Hidup seperti tidak ada artinya, karena kita semua akan mati. Baik hidupnya jahat atau baik, kaya atau miskin, bahagia atau sedih, semua orang akan mati.

Segala sesuatu adalah sia-sia. Sejak kecil kita sudah disuruh belajar, belajar dan terus belajar.

Mencari uang, mendapatkan uang, membentuk keluarga dan akhirnya mati.

Keturunan berikutnya melanjutkan hal tersebut lagi, belajar baik-baik, mendapat banyak uang, hidup bahagia, membentuk keluarga dan akhirnya mati juga, dan keturunan berikutnya melanjutkan hal yang sama lagi.

Benar-benar sia-sia, kita seperti menjaring angin. Mungkin saja hal tersebut sudah terjadi selama 25 generasi, turun-temurun sejak zaman dulu.

Itu juga belum melihat jerih payah kita, kesusahan hidup kita, kesedihan dan sebagainya.

Pertanyaannya, apa arti kehidupan, tujuan kita hidup itu sama jawabannya, baik di zaman dulu, maupun zaman ini?

Kita perlu mengetahui yang terutama dala hidup ini, karena tentu kita tidak mau masuk dala siklus kesia-siaan, lahir – tua – sakit –mati. 

Hidup demi Prestasi?

Ketika kelas 2 smp, diajarkan begini di bab pelajaran PKN, hidup bukan hanya untuk makan dan minum, tetapi berprestasi, sekilas ketika mendengar hal tersebut ada benarnya juga, tidak mungkin kita cuma makan dan minum, pastinya semua manusia juga ingin berprestasi.

Sedangkan prestasi itu sendiri tidak memiliki suatu standar.


Apa standar prestasi itu memenangkan sebuah lomba? Juara 1 di kelas? Punya bisnis dengan penghasilan 100 juta/bulan? lulus kuliah dengan ipk 4?

ketika mencapat suatu prestasi, pastinya ada suatu kebanggaan bagi dirinya sendiri, ada rasa bangga, senang, ini pun membuat orang tersebut menjadi dipandang orang, diakui orang-orang dan membuatnya menjadi bernilai.


 Mendapat pengakuan, penghargaan, pujian dari orang-orang inilah yang membuat orang yang berprestasi tadi hidupnya lebih bernilai, berguna, bernilai, ada sesuatu yang mengisi dirinya.

Orang-orang yang bergelar S3 pasti lebih dihargai dari pada orang yang hanya bergelar S1 dan orang yang hanya lulusan SD tapi menjadi bos pasti lebih dihargai dari pada orang yang bergelar S2 tapi menjadi karyawannya.


Pernah juga timbul pemikiran begini, tidak masalah hidup ini mau matinya bagaimana, yang penting bisa mencatatkan nama di sejarah, sehingga kita tidak hanya hidup, makan, minum sakit, tua, dan mati tapi nama kita terus diingat berserta jasa kita sepanjang masa.

Misalnya saja aristoteles, siapa yang tidak tahu nama itu?


Para ilmuan menyebutnya bapa ilmu pengetahuan dan banyak lagi sebutan lainnya.

Sejak SD kita sudah menemukan nama itu, di buku pelajaran IPA ada, IPS ada, matematika ada, PKN ada, begitu juga dengan pelajaran di SMP, SMA/SMK, pasti ada nama aristoteles.


 Begitu juga dengan menjadi seperti orang-orang terkenal lainnya seperti albert einstein, abraham lincon, steve jobs dan ternyata hal seperti ini sudah diinginkan sejak dulu, dan terutama sejak kita kecil, dimulai dari pemberian nama kepada kita.


Orang tua yang melahirkan kita, ketika memberi nama, tidak akan memberi nama dengan asal-asalan, mereka memberi nama yang memiliki arti yang baik, sesuai dengan yang diharapkan orang tua kita.

Ini menunjukkan ada harapan besar, kita ini diharapkan menjadi orang yang sukses, orang yang luar biasa hebat, yang hidupnya tidak biasa-biasa saja, menjadi orang yang besar.

Minimal sebelum memberi nama, pastinya mereka mencari tahu dulu dengan bertanya ke orang, atau mencari di buku daftar arti nama bayi.


Dilanjutkan dengan ketika kita balita, ditanya apa cita-cita kita? Hal ini juga menunjukkan ada suatu visi, tujuan, harapan dari orangtua atau keluarga, mereka menginginkan kita menjadi orang yang berhasil nantinya, ada suatu harapan besar dari mereka untuk kita.


Dalam hal ini menjadi apa kita, ingin mencapai prestasi itu, jelas yang kita cari bukanlah uang, uang bisa dibilang sudah merupakan bonusnya, tapi yang kita cari adalah penghargaan, diakui orang-orang, sehingga hati kita yang kosong ini dapat terisi.


Tapi apakah orang dari zaman dulu juga mencari hal ini?

Apa hidupnya demi prestasi?

Apa orang zaman sekarang juga mencari prestasi?

Hal ini agak diragukan, kenapa?

Coba kita bayangkan kembali ke zaman dulu, ke zaman adam dan hawa. Mereka hanya berdua, zaman itu belum seperti zaman ini, mereka mau mencapai prestasi apa?


Apa yang mau mereka capai dan siapa yang mau menghargai mereka? Ada nilai hidup yang berbeda, misalnya jika kita melihat zaman ini, di mana di timur tengah penuh peperangan. Jelas yang orang yang tinggal di sana bukan mencari prestasi, tapi apakah besok kita masih bisa hidup?


 Orang yang kurang mampu mencari apa nanti masih bisa makan? Orang yang sakit stroke mencari bagaimana dia bisa sembuh. Bukannya salah jika memiliki cita-cita, visi misi, tujuan hidup, ambisi, ingin berprestasi.


Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, itu malah berdampak baik bagi hidup kita. Tapi yang jelas tujuan hidup kita bukan untuk berprestasi, kita hidup bukan hanya untuk sekedar berprestasi, tapi ada suatu tujuan hidup yang lebih benar lagi selain berprestasi.

Hidup demi Kesuksesan?

Siapa yang tidak mau hidup sukses? Jelas semua orang mau, tapi jika ditanyakan kepada anda, sukses seperti apa yang anda mau?

Hidup kaya raya ? atau seperti apa, apa standar sebuah kesuksesan? Apa arti sebenarnya/definisi dari kesuksesan.

Orang-orang zaman ini menilai kesuksesan dengan memiliki banyak uang, banyak properti, banyak bisnis.

Belum lagi dengan banyak seminar-seminar motivasi tentang kesuksesan, 8 kunci sukses, rahasia sukses. Ada juga yang mengartikan  sukses sebagai berikut :

S : sehat

U : uang

K : keluarga

S : sosial

E : etika

S : spiritual

Memiliki kesehatan yang baik, uang yang cukup, hubungan keluarga yang baik, kehidupan sosial yag baik, memiliki etika yang bermoral, dan memiliki kehidupan spiritual yang baik.

Tapi aneh, terutama di zaman ini, meski mereka mengartikan sukses seperti itu, tetap untuk menyatakan seseorang sukses, dilihat dari uangnnya.

Agar hidup bahagia, dinilai dari berapa banyak uangnya. Begitu memiliki uang yang banyak barulah yang lain menyusul yaitu berupa kesehatan, keluarga, sosial, etika, dan spiritual.

Di seminar-seminar dikatakan agar hidup bahagia haruslah memiliki uang, punya passive income, kebebasan finansial sehingga memiliki banyak waktu dan uang, tidak salah memang, tapi jika hidup kita semata-mata hanya untuk uang saja, hidup ini benar-benar menjadi sia-sia sekali.

 Padahal hidup kita ini begitu singkat, apa gunanya mendapat jackpot 5 miliar atau punya penghasilan pasif 100 juta/bulan, tapi besoknya kita meninggal karena jatuh terpeleset di wc dan kepala pecah.

Jadi untuk anda yang berkata hari ini atau besok kami mau bisnis ini dan kami akan mendapat untung yang banyak, sedang anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidup anda?

 Hidup anda itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Untuk apa anda punya 1 dunia ini, tapi 1 menit lagi anda mati?

Belum lagi banyak pengajaran aneh saat ini, misalnya akar segala kejahatan ialah kekurangan uang.

Jika hal ini benar, Indonesia sudah menjadi salah satu negara terjahat di dunia, dengan penduduk yang berjumlah sekitar 200 juta orang, jika ada 2% saja orang kurang mampu, Indonesia sudah pasti masuk peringkat 5 besar negara dengan jumlah penduduk terjahat di dunia.

Seharusnya yang benar adalah akar segala kejahatan ialah cinta uang, oleh karena mecari uanglah orang-orang menyiksa dirinya dengan berbagai hal yang menyedihkan.

Tidak heran, para koruptor yang sebenarnya sudah menjadi orang kaya, masih tetap saja korupsi. Rasa puas akan uang tidak akan pernah habis. Kesuksesan seperti ini tidak bisa dijadikan sebagai tujuan hidup  atau alasan untuk kita hidup.

Bukannya tidak boleh kaya, malah semua orang harus kaya, tapi kaya untuk apa dulu?

Kaya untuk diri sendiri atau orang lain?

Dan lagipula, kesuksesan tidak bisa mengisi penuh hati manusia yang kosong.

Jadi apakah benar kita hidup ini demi kesuksesan?

Jelas kesuksesan bukan merupakan tujuan hidup kita. Lebih sukses mother theresa atau orang yang memiliki penghasilan 500 juta per hari?

Negara yang dikuasai ISIS mengharapkan perdamaian dan pembebasan, orang-orang sakit mencari kesehatan, sedangkan biaya berobat untuk kesehatan semakin mahal.

Dunia benar-benar tidak seimbang. Apa di zaman dulu adam dan hawa mencari kesuksesan?

Tidak mungkin, mereka hanya berdua di zaman itu. Jika kita hanya mencari kesuksesan, kita akan masuk dalam siklus hidup pederitaan yang tidak pernah berakhir.

Lahir kemudian tua akhirnya sakit dan mati, atau belum tua sudah meninggal duluan karena kecelakaan di usia muda misalnya. Ada suatu tujuan hidup yang lebih benar lagi selain hidup demi kesuksesan.

Baca juga: Tips Kehidupan Super Lengkap yang Wajib Anda Ketahui

Hidup demi Kebaikan?

Hidup untuk berbuat baik, benar-benar tidak ada yang salah dengan hal ini. Tidak ada hukum yang menentang untuk berbuat baik.

Dari kecil kita juga sudah diajarkan untuk berbuat baik terhadap sesama kita.


Yang namanya hidup demi berbuat baik, berarti kita hidup demi menolong sesama kita.

Dimulai dari hati kita yang penuh belas kasihan terhadap sesama kita yang membutuhkan.


Misalnya dengan membantu orang-orang miskin, menolong anak yatim piatu, membantu warga yang terkena bencana alam, membantu orang-orang yang terkena penyakit tertentu.


Seperti bunda theresa yang menolong dan merawat  banyak orang-orang yang sakit, dan membutuhkan di India.

Membantu orang lain juga tidak membutuhkan banyak hal, tidak peduli apapun latar belakang kita, kita juga bisa membantu orang, berbuat baik, dan memberi pada orang lain.

Yang dibutuhkan hanya satu, yaitu hati. Tanpa hati yang benar, semua yang kita lakukan itu sia-sia.


Mau memberi 2 milyar pada orang miskin, tanpa hati yang benar, tanpa motivasi yang benar, itu semua sia-sia. Bukannya sumber semua perbuatan kita, tingkah laku, sikap, karakter kita itu berasal dari hati?


Jika mata hati kita terang, maka teranglah seluruh perbuatan kita, jika mata hati kita gelap, maka gelaplah seluruh hidup kita.

Jika hati kita baik, maka pikiran kita juga baik, dan akhirnya perbuatan kita juga baik, begitu juga dengan kebalikannya.


Namun satu hal yang pasti, semua orang di dunia seharusnya berbuat baik, hati nurani kita juga berkata demikian bukan?

Jika kita mau berbuat baik, berarti ada pihak yang memberi dan ada yang perlu diberi, toh kita harus mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri sendiri.


Jika hukum ini benar-benar dijalankan semua manusia di dunia, pastinya kehidupan di bumi ini penuh kedamaian, kesejahteraan, kemakmuran, tidak ada lagi penderitaan, tidak ada orang miskin, kekurangan.


Tapi pertanyaannya apa orang yang kurang mampu juga bisa berbuat baik? Jelas bisa, kembali lagi yang diperlukan itu hanya hati.

Apa ada perbedaan antara orang kaya yang menyumbang 2 milyar dengan orang yang menyumbang 200 perak?


 Tidak ada, karena yang dinilai bukanlah jumlahnya, tapi sifatnya, dan lagi orang miskin yang memberi 200 perak ini tentu dinilai lebih mulia, karena ia memberi dari kekurangannya, sedangkan orang kaya tersebut memberi dari kelebihannya.


Hanya tentu saja orang yang kurang mampu harus diutamakan diberi duluan dari orang yang memiliki.

Bagaimana bro/sis? Bukannya hidup demi berbuat baik ini bisa dijadikan tujuan untuk kita hidup?


 Jika kita kembali ke zaman adam dan hawa, bukankah indah dan mulia bagi mereka saling mengasihi, saling berbuat baik satu sama lain, begitu juga mereka melakukan hal tersebut ke anak-anak dan keturunan mereka.


Dan seandainya ketika mereka (adam dan hawa) dijahati oleh keturunan mereka alias air susu dibalas air tuba, mereka tetap mengasihi orang yang berbuat jahat kepada mereka.


 Mereka tetap memaafkan dan berbuat baik terhadap yang menjahati mereka, bukannya ini hal yang luar biasa? Kekerasan kejahatan mereka tentu akan kalah oleh kekerasan kasih.


Kembali lagi, untuk melakukan hal saling mengasihi ini tidak perlu yang namanya prestasi, tidak perlu yang namanya kesuksesan, hanya hati, malah orang yang melakukan hal tersebut bisa dibilang orang paling sukses di dunia.


Hidup demi berbuat baik ini, jelas bisa dijadikan alasan untuk apa kita hidup, dan menjadi tujuan hidup kita. Sayangnya, hidup demi berbuat baik ini tidak bisa dijadikan alasan hidup kita yang pertama, hanya bisa dijadikan urutan kedua.


Mengapa? Karena kebaikan kita itu terbatas. Seandainya ada seorang raja yang memiliki segala-galanya dan seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Raja tersebut tentu bisa memberi banyak kepada orang miskin tersebut.


Berbuat baik seperti ini bisa dibilang merupakan hal yang wajar dan umum bagi kita, tapi jika raja tersebut diminta untuk turun dari tahtanya yang tinggi kemudian menukarkan posisinya menjadi orang miskin tersebut, dan orang miskin tersebut yang menjadi raja, apakah raja tersebut mau?


Hampir 100% bisa dipastikan tidak. kebaikan kita itu terbatas, oleh karena itu berbuat baik tidak bisa dijadikan tujuan hidup kita yang utama, hanya bisa jadi tujuan hidup nomor kedua kita.


Kita semua bisa merasakan bukan?

Seandainya kita berbuat baik hari ini dan besoknya mati, tentu kita tidak begitu menyesal jika dibandingkan kita mendapat 5 milyar hari ini dan besoknya kita mati, minimal nama kita pasti diingat orang, jasa kita pasti diingat orang, kisah kita juga menjadi inspirasi bagi orang lain.


Hidup kita harus berbobot, bernilai, berdampak bagi orang lain, jangan sampai ketika kita hidup, orang di sekitar kita tidak merasakan apa-apa dan ketika kita mati, orang di sekitar kita juga tidak merasakan apa-apa.

Tapi ada suatu tujuan hidup yang lebih benar lagi yang menjadi tujuan nomor satu hidup kita.

Apa Alasan kita hidup? Apa kebutuhan kita yang sebenarnya?

Dalam kehidupan kita , tentu ada suatu hal yang menjadi alasan untuk kita hidup, dan alasan tersebut berasal dari kebutuhan-kebutuhan kita.

Di sekolah dasar kita sudah belajar manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, serta kebutuhan tersier.

Kebutuhan primer merupakan kebutuhan yang wajib kita penuhi, yaitu makanan, pakaian, dan tempat tinggal.


Kehilangan salah satu dari kebutuhan tersebut membuat kelangsungan hidup terganggu.

Setelah kebutuhan primer terpenuhi, ada kebutuhan sekunder yaitu rekreasi, hiburan.

Kebutuhan tersebut bisa terpenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi, kemudian berlanjut lagi ke kebutuhan tersier. Yaitu kebutuhan akan motor, handphone, mobil.


Tapi apakah benar kehidupan kita ini digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan kita? Apa semua orang di dunia ini bergerak oleh karena kebutuhan yang sama?


Jelas dalam kehidupan kita, kita memerlukan makan, oleh karena itu kita bergerak mencari uang untuk mendapatkan makanan.

Kita memerlukan pakaian, oleh karena itu kita bergerak mencari uang untuk mendapatkan pakaian, kita memerlukan sahabat, oleh karena itu kita bergerak mencari relasi/hubungan yang baik. Kita mencari permen karena butuh permen.


Jika benar demikian, apakah yang sebenarnya paling kita cari di dunia ini? Kita perlu mengetahui apa yang paling kita butuhkan di dunia ini. Ada sebuah teori tentang kebutuhan yang terkenal yang dibuat oleh Abraham Maslow.

Teori hierarki kebutuhan ini digambarkan dengan sebuah segitiga. Jadi kita semua memiliki kebutuhan fisiologis/kebutuhan dasar kita.

Jika kebutuhan fisiologis ini sudah terpenuhi, maka muncullah kebutuhan akan rasa aman, begitu juga seterusnya sampai pada kebutuhan aktualisasi diri.

Untuk apa saya hidup? motivasi hidup, tujuan hidup

Yang pertama kita butuhkan ialah kebutuhan fisiologis/dasar. Kita semua memerlukan pakaian, makanan, tempat tinggal, tidur, buang air kecil, buang air besar. Jika salah satu dari kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka kehidupan kita bisa terganggu.

 

Misalnya seseorang sudah memiliki makanan, tempat tinggal tapi tidak memiliki pakaian, jelas kehidupannya sangat tergangggu.

Semua manusia jelas memerlukan kebutuhan fisiologis/dasar ini, kehilangan kebutuhan ini membuat manusia binasa.

 Kehidupan pertama-tama tentu digerakkan oleh kebutuhan ini , orang-orang sejak kecil belajar kemudian bekerja, tujuannya tidak lain yaitu untuk mendapatkan uang, sehingga bisa makan, minum, memiliki tempat tinggal.

Jika seandainya kebutuhan ini tidak terpenuhi pada manusia secara ekstrim, misalnya terjadi kelaparan, hal ini bisa membuat manusia kehilangan kendali atas dirinya.

Contoh : terjadi kerusuhan, demi mendapatkan makanan. 

Yang kedua, setelah kita memenuhi kebutuhan fisiologis/dasar, muncullah kebutuhan akan rasa aman.

Kita ini tentu memerlukan rasa aman. Siapa yang tenang hidupnya, seandainya sudah memiliki makan, pakaian, rumah yang bercukupan, tiba-tiba rumahnya digusur orang lain tanpa alasan.

 Oleh karena itu, manusia membuat hukum, peraturan, undang-undang dasar untuk menjamin rasa aman tersebut.

Begitu juga manusia membuat program asuransi, pensiun. Kehilangan kebutuhan ini dalam waktu yang lama, bisa membuat sikap dan perilaku orang-orang menjadi buruk.

Kebutuhan ketiga adalah kebutuhan dicintai dan disayangi. Manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri/ berdiri sendiri. 

Manusia memerlukan cinta kasih dari orang lain.

Percuma jika seorang manusia memiliki banyak uang, memiliki kebebasan finansial tapi hidup sendiri, tidak memiliki keluarga yang mengasihinya, tidak memiliki saudara, teman yang mengasihinya, masa nantinya menggali kubur sendiri?

 Tanpa dicintai dan disayangi manusia akan merasa sebatang kara, tidak berharga.

Begitu juga dengan orang yang tidak memiliki hubungan yang akrab, kesetiakawanan akan merasa terkucilkan atau malah orang yang dikucilkan. 

Dan yang keempat, manusia memerlukan kebutuhan akan harga diri. Setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, maka manusia ingin dihargai.

Manusia memerlukan penghargaan dari orang lain, pengakuan dari orang lain, rasa hormat dari orang lain. 

Misalnya penghargaan atas prestasi yang telah dicapainya. Kebutuhan akan harga diri menjadi dominan.

Jika kebutuhan ini terpenuhi, maka manusia akan merasa percaya diri, berharga.

Ketika tidak terpenuhi manusia akan merasa rendah dan tidak bernilai. 

Ketika semua kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, maka kebutuhan yang terakhir adalah kebutuhan aktualiasasi diri.

Menurut Abraham Maslow, ada beberapa meta kebutuhan. Beberapa diantaranya yaitu kebenaran, kreativitas, moralitas, kesempurnaan, kekayaan, bermain, kecantikan, dan sebagainya. 

Hal ini digambarkan seperti seorang pemusik yang menciptakan lagu, dan bermain musik.

Seorang penulis itu pastinya menulis buku, seorang atlet basket bermain basket.

Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi hal-hal seperti kebosanan,  putus asa, mementingkan diri sendiri, kehilangan hasrat dan sebagainya. 

 

 Apa kebutuhan kita yang sebenarnya?

Kebutuhan kita yang sebenarnya


Kita telah melihat teori hierarki kebutuhan yang sebelumnya di atas.

Pertanyaannya adalah apakah kebutuhan-kebutuhan kita sebagai manusia itu seperti yang dibilang oleh teori tersebut?


Apakah kebutuhan yang dipaparkan tersebut benar-benar kebutuhan yang paling kita butuhkan di dunia ini?

Sebagian orang akan mengatakan benar tapi sebagian orang juga akan mengatakan belum tentu.


Sebuah teori yang meskipun dikatakan terkenal sekalipun tidak bisa dijadikan suatu patokan hidup kita.

Sebuah teori yang terkenal sekalipun tidak bisa dikatakan benar. Kita tidak bisa memutlakkan seuatu teori.


Karena ketika seseorang membuat sebuah teori menjadi absolut/mengatakan bahwa hal itu benar, atas dasar apa orang tersebut benar?

Kita perlu sebuah kebenaran yang mengatakan kebenaran.


Dan penulis percaya bahwa surga sudah menuliskan hukum kebenaran di hati kita. Dari sinilah kita bisa mengenal mana yang merupakan kebenaran dan mana yang bukan.

Sederhanya misalnya ketika seseorang mengatakan 2+2 adalah 4, tentu kita akan mengatakan hal itu benar, itu adalah kebenaran, ini absolut dan mutlak, tidak ada orang yang bisa merubahnya, karena jelas itu adalah kebenaran.

Kebenaran inilah yang bisa kita gunakan sebagai patokan kita, dan ketika seseorang mengatkan 3+2 adalah 10 itu pasti benar, kita sudah bisa menilai bahwa itu salah dan bukan kebenaran.

Dan juga kebenaran ini tidak semua orang mau menerimanya.


Karena seorang manusia itu memiliki kehendak bebas, kita tidak bisa memaksa seseorang menerima kebenaran, hanya bisa menawarkannya.

Seseorang hanya bisa menawarkan sebuah permen yang enak untuk kita, setelah itu kita yang memilih mau makan atau tidak.


jika kita menolak permen tersebut, dan orang yang menawarkan permen tersebut memaksa kita untuk memakan permennya, bisa jadi itu bukan permen yang enak tapi permen beracun atau narkoba.


Begitu juga halnya dengan sebuah kebenaran. Kita perlu menggunakan hukum kebenaran yang sudah ditulis di hati nurani kita, dan menilai sebuah kebenaran. Karena sumber seluruh tingkah laku, pikiran kita, akal sehat kita berasal dari hati kita.

Dari hati berlanjut ke pikiran dan berlanjut ke sikap kita. Jika hati kita tidak benar, maka pikiran kita juga tidak benar, sehingga tingkah laku kita, dan begitu juga dengan kebalikannya.

Oleh karena itu, ketika kita mengatakan “kebutuhan kita yang sebenarnya” , kita sedang membicarakan suatu pandangan yang dianggap kebenaran, dan diperlukan hati nurani kita, dan akal sehat kita untuk menilainya dan mau menerimanya atau tidak.


Nah, mari kita lanjutkan tentang apa yang paling kita butuhkan di dunia ini. Dari melihat teori di atas, bisa disimpulkan bahwa kebutuhan kita, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan badan/tubuh kita ini yang membutuhkan makan, air, tidur untuk dapat terus hidup, tapi juga memerlukan kebutuhan untuk jiwa kita, emosi kita.


 Oleh karena itu, orang-orang mau mendengar tentang motivasi-motivasi, ceramahnya Mario Teguh, menonton film, berkumpul bersama temannya, semua itu untuk memenuhi kebutuhan jiwa kita.

Dan dari sini kita bisa mendapat satu pertanyaan yang bisa membuktikan apa yang paling kita cari dan butuhkan di dunia ini.


Satu pertanyaan yang sederhana yaitu jika kita tahu bahwa besok kita akan mati, apa yang akan kita lakukan pada hari ini?

Sebuah survey pernah dilakukan dengan pertanyaan jika dalam waktu 3 bulan lagi kita tahu kita akan meninggal, apa yang akan kita lakukan mulai dari hari ini?

Hasil survei menunjukkan lebih dari 40% orang memilih membangun relasi ke orang lain dengan kata lain hubungan sosial/kasih ke sesama.


Hanya di bawah 10% orang-orang yang memilih mencari uang sebanyak-banyaknya. Hal ini juga bisa dibutktikan dari reaksi kita. Seandainya jika kita tiba-tiba diberitahu akan meninggal besok.

Pastinya kita akan mengabari ke keluarga kita, saudara kita, teman-teman kita dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat.


Dengan kata lain juga yang paling kita cari di dunia ini dan paling kita butuhkan di dunia ini adalah kasih, hubungan antar manusia, relasi dengan orang lain, tentu hubungan antar manusia yang saling mengasihi, bukan hubungan yang penuh konflik.

Baca juga : Langkah memilih jurusan SMA sampai Kuliah Lengkap!


Toh ketika adam dan hawa masih berdua, pastinya mereka menjalin hubungan yang baik, saling mengasihi.

Tidak mungkin saling berkelahi kemudian tinggalnya beda tempat, makan sendiri-sendiri dan karena saling mengembara, mereka tidak bertemu lagi.


Jika seandainya hal itu terjadi habislah dunia ini, tidak ada siapa-siapa, kita juga tidak akan ada.

Meskipun mereka (adam dan hawa) terkena konflik, saling marahan dan berkelahi, tentu mereka akan saling memaafkan oleh karena kasih, kasih menutupi banyak sekali pelanggaran.


Mereka akan saling memaafkan karena mereka pastinya tidak mau hidup sendiri-sendiri.

Saya yakin ketika anda diberi 2 pilihan yaitu : kaya raya tapi hidup sendiri selamanya dengan hidup miskin menderita tapi memiliki hubungan yang penuh kasih dengan orang lain selamanya, anda akan memilih pilihan kedua.


Tidak heran kita sudah diajari untuk berbuat baik sejak kecil, baik di rumah mapupun di sekolah kita pastinya diajari untuk memiliki etika moral yang baik, karakter yang baik, mental yang baik.

Bukannya kita juga sudah sering mendengar cerita, keluarga yang kaya raya, tapi anaknya hidup dalam pergaulan yang buruk, karena orang tuanya tidak memperdulikan anaknya atau juga anak yang hidup di keluarga yang broken home, kehidupan anaknya hancur karena kekurangan kasih dan mencari kasih di luar.


Jadi apa yang paling kita cari dan paling kita butuhkan di dunia ini adalah kasih. Kehidupan kita digerakkan oleh kebutuhan akan kasih ini.

Semua orang di dunia membutuhkan kasih ini.

Tapi bagaimana kita bisa mengasihi orang lain jika kita sendiri merasa tidak pernah dikasihi?

Bagaimana kita bisa memberi jika kita tidak pernah diberi terlebih dahulu?


Satu hal yang pasti, Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Tuhan yang mengasihi kita terlebih dulu, bukan kita yang duluan mencintai Tuhan.


Tapi bukankah kebutuhan kita yang sebenarnya ini sama seperti yang dijelaskan di bagian tentang hidup demi kebaikan?


Benar sekali, kurang lebih sama. Hanya saja penting bagi kita untuk mengetahui bahwa kita bukan hanya makan, minum saja tapi saling mencintai dan menyayangi.


Jika saja hal ini bisa diterapkan, tentu tidak ada yang namanya pembunuhan, pencurian, teroris, ISIS, dan berbagai kejahatan lainnya.

 

Baca juga : Rahasia mencari jodoh yang pasti tepat!


Tujuan hidup kita yang sebenarnya juga didasarkan atas kebutuhan akan rasa saling mencintai dan menyayangi/mengasihi ini.

Baca juga : Bosan Hidup? Inilah tujuan dan arti hidup manusia yang sesungguhnya

Bagaimana menurut Anda? Silahkan berpendapat melalui komentar..

Semoga bermanfaat

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *