Penuh Risiko! Meminjamkan Uang atau pilih Pertemanan?

Meminjamkan Uang atau pilih Pertemanan

 

Money more taboo than sex!

Fakta atau mitos?

Yes, itu adalah fakta Anda percaya atau tidak

Jika sudah berbicara soal uang, maka tidak ada lagi yang namanya gender, suku, ras, agama. Uang tidak mengenal identitas.

Uang bisa dibilang sumber segala masalah dan kejahatan.

Atau kata pepatah : uang itu tidak mengenal saudara, teman dan hubungan kemanusiaan yang lain.

Tidak heran berapa waktu lalu bisa ada berita seorang anak menuntut orangtuanya sendiri karena masalah uang.

Berapa banyak yang pinjam uangteman yang berakhir dengan rusaknya hubungan? Menagih salah, tidak menagih salah juga.

Setiap kali dan semua hal yang berhubungan dengan uang pasti pusing untuk memikirkannya.

Uang bisa berbalik mengendalikan kita jika tidak kita kendalikan dengan benar.

Pilihannya berat antara hubungan atau uang.

Permasalahan ini terjadi sehari-hari apalagi jika sudah menyangkut pinjam meminjam uang.

Tidak meminjamkan tidak enak, dicap pelit dan sebagainya, sedangkan jika meminjamkan uang kemungkinan besar tidak akan kembali + berat untuk menagihnya.

Apalagi ternyata orang yang kita pinjamkan itu posting lifestyle yang wah di social medianya, namun waktu menagih selalu menjawab belum memiliki uang atau nanti pasti membayar.

Bank of America melakukan riset terhadap 1000 orang dan menemukan 74% hubungan pertemanan rusak atau sangat keberatan jika meminjam lebih dari $500.

Berdasarkan data dari Kementerian Agama di tahun 2014, 1 dari 10 pernikahan di Indonesia berakhir dengan perceraian.

Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (MA) menyebutkan, dari 285.184 perkara perceraian,

Sebanyak 67.891 kasus (24%) karena masalah ekonomi, disusul oleh masalah perselingkuhan sebanyak 20.199 kasus (7%), serta 2.191 kasus (3%) karena kekerasan dalam rumah tangga.

Masalah sepele sehari-hari yang kita lakukan ini bukan lagi masalah kecil, jika tidak kita perhatikan, bisa-bisa terbawa menjadi karakter kita urusan menganggap rendah pinjam meminjam uang ini meski awalnya hanya uang kecil.

Permasalahannya simpel, satu orang biasanya yang menanggung dulu semua biayanya nantinya temannya tinggal membayar ke dia.

Pertanyaannya apakah teman kita membayar? Atau apa kita juga membayar?

Lama-lama jadilah efek bola salju 🙁 dan rusaklah sebuah hubungan.

Jadi apa yang harus kita lakukan?

1. Ngaca dulu

Lihat dulu diri sendiri, kita suka utang tidak?

Atau jangan-jangan kita sendiri masih banyak utang.

Jika begitu mari segera lunaskan, kita juga tidak suka bukan meminjamkan uang tapi teman kita tidak mengembalikannya?

Hukum tabur tuai berlaku.

Apa yang kita lakukan ke orang lain, begitu juga orang lain tersebut memperlakukan kita

Tidak suka diutangi? Jangan suka utang juga.

Simple as that.

Yang penting adalah lihat kebutuhan kita dulu, apakah benar-benar harus sampai meminjam uang, apalagi uangnya hanya untuk kebutuhan konsumtif kita, itu sangat BIG NO.

Jika memang kita perlu uang untuk kebutuhan yang sangat mendesak, cobalah jangan ke teman dulu, tapi melalui bank dulu.

Jika ditolak, baru coba ke keluarga/teman, tapi gunakan juga jaminan kalau perlu hitam diatas putih jadi jika ada masalah yang tidak diinginkan, penyelesaiaannya sudah ada.

Hubungan pun perlu profesional.

Berapa banyak hubungan rusak akibat uang?

2. Lihat kebutuhan teman/keluarga kita

Seperti yang tertulis diatas, kita harus melihat teman atau anggota keluarga kita meminjam uang untuk apa.

Jika untuk kebutuhan konsumtifnya? Serius kita mau memberikannya?

Logika akal sehatpun mengatakan hal itu sangat tidak masuk akal.

Beda cerita kalau mereka benar-benar membutuhkan uang, misalnya saja biaya rumah sakit, akan sangat jahat justru jika kita tidak menolong mereka.

Meminjamkan uang untuk menolong dan sekedar tidak dicap pelit itu berbeda.

3. Siap meminjamkan? Jangan harap kembali

Di zaman edan seperti sekarang, jangan harap uang yang kita pinjamkan akan kembali. Bisa kita katakan kemungkinannya 90%.

Pengalaman Anda juga berbicara begitu toh?

Jadi jika memang Anda mau meminjamkan uang, Anda harus berpikir seakan Anda memberi uang padanya dengan ikhlas dan tulus.

Seandainya Anda tidak rela memberi uang dengan jumlah segitu pada teman Anda, lebih baik jangan meminjamkan daripada sakit hati dan pahit.

Lebih baik dibilang pelit meskipun tidak daripada tidak rela kemudian terpaksa akhirnya jadi masalah bertahun-tahun.

4. Berani katakan TIDAK

Tidak selalu semua hal harus kita katakan YA.

Ada waktu untuk mengatakan Ya, ada waktu untuk Tidak.

Semua yang Ya belum tentu berarti baik.

Baik belum tentu benar bukan?

Sama waktu Anda tidak mau meminjamkan uang, katakan saja Tidak.

Dicap pelit dan sebagainya?

Teman yang benar-benar teman akan mengerti, tapi jika tidak?

Yasudahlah, tidak semua orang bisa mengerti dan mau mengerti juga.

Tapi tentu dengan cara yang benar dan komunikasi yang sehat Anda menyampaikannya.

Katakan kalau Anda memiliki perencanaan finansial tersendiri, tidak bisa seenaknya mengeluarkan uang, semuanya terencana.

Hubungan pun harus profesional.

Meskipun Anda memiliki uang lebih tidak perlu berbohong Anda tidak punya uang, atau lagi butuh ini, butuh itu, katakan saja Anda punya prinsip soal uang, tidak bisa seenaknya.

Anda punya prioritas soal uang. Lebih baik apa adanya, daripada nantinya lebih susah karena tidak enak sesaat.

“Before borrowing money from a friend, decide which you need more. The Friend or The Money” Click To Tweet

Tentukan pilihanmu

Finansial sehat dan juga hubungan?

Tentu Anda bisa menjaga dan mengembangkan kedua-duanya.

Mari bersama-sama belajar menjadi profesional dalam bidang ini

Apa pendapatmu?

Berikan melalui komentar dibawah . .

credit photo : Michal Jarmoluk

Follow Us On Social Media :
This entry was posted in .