Kenali Dirimu Sendiri atau Hidupmu Sama Seperti Binatang

mengenal diri sendiri

Manusia Mencari Dirinya Sendiri

Sejak dulu, manusia selalui mencari jati dirinya.

Mencari tujuan hidup, passion, tapi tidak pernah ketemu.

Apakah Anda salah satu orangnya?

Manusia yang tidak mengenali itu seperti binatang. Binatang juga tidak mengenali dirinya sendiri bukan?

Saya sendiri dulunya tidak mengetahui diri sendiri, bingung dengan tujuan hidup, kerja untuk apa, padahal binatang juga bekerja dan makan, lalu apa bedanya saya dengan binatang?

Saya bisa berpikir, tetapi saya tetap bingung dengan siapa diri saya yang sebenarnya?

Apa itu manusia sebenarnya?

Hidup saya hanya sebatas masuk ke siklus lahir – tua – sakit – mati

Yang di mana binatang juga memiliki siklus hidup tersebut.

Tidak peduli Anda kaya, miskin, sehat, ganteng/cantik, Anda akan masuk ke siklus tersebut jika Anda tidak mengenali diri Anda sendiri.

Tentang ini juga sudah saya bahas di : Untuk Apa Saya Hidup?

Ternyata masalah mengenali diri sendiri bukan hanya ada di zaman ini, tetapi dari zaman dulu.

Di abad VI SM, ada motto terkenal yang menyebar dari Delphi, India :

Gnothi Seauthon - Kenalilah Dirimu! Click To Tweet

Motto ini begitu mengena ke para filsuf untuk memahami dirinya.

Kabarnya motto ini jugalah yang mendorong perkembangan filsafat di Yunani.

Tentu kita tahu bukan, bisa dibilang Yunani merupakan sumber segala pengetahuan, tiga filsuf besar berasal dari sana yaitu : Plato, Socrates, Aristoteles.

Ilmu-ilmu yang beredar di dunia sampai saat ini yang kita pelajari sejak SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah kebanyakan berasal dari 3 filsuf besar tersebut.

Dengan berkembangnya zaman, banyak ilmu baru yang bermunculan yang bertujuan memudahkan kehidupan umat manusia.

Salah satunya adalah psikologi.

Tentu kita tahu jika psikologi adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang manusia.

Menurut wikipedia, Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari mengenai perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah.

Psikologi sendiri sudah ada sejak zaman Aristoteles.

Walahpun psikologi sudah menciptakan banyak teori tentang manusia, sampai zaman ini ada empat konsep psikologi tentang manusia yang paling besar, terkenal dan berpengaruh di dunia ini.

Yaitu :

  • Psikoanalisis (manusia berkeinginan),
  • Psikologi humanistis (manusia bermain),
  • Behaviorisme (manusia mesin), dan
  • Psikologi kognitif (manusia berpikir).

Kita akan mencoba mengenali diri kita sendiri dari ke empat psikologi ini dahulu satu per satu.

Baca juga : Cara pacaran sekali seumur hidup

 

Mengenali diri sendiri dari psikologi psikoanalisis

Psikoanalisis didirikan oleh Sigmund Freud. Dia merupakan orang pertama yang berusaha merumuskan psikologi manusia.

Berbeda dengan psikologi lain, psikonanalisis memfokuskan perhatiannya pada keseluruhan kepribadian Anda, bukan bagian-bagiannya.

Dalam psikoanalisis, perilaku manusia, perilaku kita, Anda dan saya merupakan hasil gabungan dari 3 bagian sistem kepribadian manusia yaitu id, ego, dan superego.

Id adalah bagian kepribadian kita yang menyimpan dorongan biologis.

Id dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Libido (Insting kehidupan / disebut juga eros) merupakan insting manusia yang bergerak melakukan kegiatan yang membangun. Sedangkan,
  • Thanatos (Insting kematian) merupakan insting manusia yang bergerak melakukan kegiatan yang menghancurkan.

Dua insting ini cukup menarik, karena kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya saja waktu kita malas belajar, menganggap pelajaran tidak berguna berarti insting thanatos sedang tinggi padahal kita sudah digerakkan libido untuk rajin belajar karena biaya sekolah mahal.

Kita sendiri yang mengizinkan mau insting mana yang lebih tinggi.

Apa insting thanatos/kematian atau insting eros/kehidupan.

Semua motif kehidupan kita bergerak bedasarkan gabungan insting tersebut.

Id bergerak untuk segera memenuhi kebutuhannya. Id adalah hasrat hewani manusia.

Jadi apakah Anda akan membiarkan diri Anda tunduk di bawah insting binatang ini?

Id memang melahirkan keinginan bagi kita, mau belajar atau malas-malasan.

Kita tahu kalau tidak belajar kita tidak akan lulus, tetapi bagian diri kita yang lain maunya malas-malasan, tidak ingin belajar, meski besok ujian, meski tahu kalau tidak belajar kita bisa tidak lulus.

Tidak heran jika ada orang yang bisa membunuh orang lain karena marah sesaat, ia menyerahkan dirinya untuk dikuasai oleh insting thanatos/kematian ini sepenuhnya.

Hasrat hewani menguasai dirinya sepenuhnya.

Id memang melahirkan keinginan, tapi id tidak bisa memuaskan keinginannya.

Sistem kepribadian yang kedua adalah ego.

Ego inilah yang menjadi jembatan antara id dengan dunia luar.

Ego menjadi penengah hasrat hewani id dengan pikiran kita yang rasional, mampu berlogika.

Dengan ego kita tidak dikuasai oleh hasrat hewani, tetapi kita mampu untuk menundukkan hasrat hewani di bawah pikiran kita yang rasional.

Ketika id menggerakkan kita untuk tidak gosok gigi, tidak mandi, dan langsung tidur saja, ego langsung memperingatkan jika tidak gosok gigi dan mandi, gigi Anda akan keropos dan badan Anda bisa terkena penyakit kulit.

Kalau kita mengikuti id sebenarnya kita cukup konyol, dan kita baru ingat kalau tidak mandi itu tidak baik.

Sistem kepribadian yang ketiga adalah superego.

Super ego adalah hati nurani kita yang didasari dengan nilai-nilai moral.

Oleh karena itu kita bisa hidup dengan moral yang berlaku, melakukan perbuatan baik, menjalani nilai-nilai agama.

Id dan super ego ini saling bertarung, ego lah yang menjadi penengahnya.

We see man as savage beast – kita melihat manusia sebagai binatang buas , begitu kata Sigmun Freud tentang psikoanalisis ini.

Saya tidak setuju dengan psikoanalisis ini.

Apakah Anda setuju? (Silahkan menyampaikan pendapat Anda melalui komentar…)

Sayangnya kebanyakan manusia memang lebih cenderung mengikuti hasrat hewaninya.

Hasrat hewani memang menyenangkan, tetapi nikmat sesaat ini hanya akan membawa kehancuran di ujungnya.

 

Mengenali Diri Sendiri Dari Behaviorisme

Aristoteles mengatakan bahwa awalnya manusia  waktu lahir tidak memiliki apa-apa.

Jiwa manusia awalnya kosong.

Seperti kertas putih yang belum dicoret apa-apa, belum dilukis apa-apa.

John locke mengatakan pada waktu lahir manusia tidak mempunyai ‘warna  mental’

Warna ini didapat dari pengalaman.

Kertas putih itu dicoret oleh pengalaman.

Pengalamanlah sumber pengetahuan.

Jadi seluruh pemikiran kita, apa yang kita lakukan, disebabkan bukan karena kemauan kita, tapi karena pengalaman.

Perilaku kita adalah hasil dari belajar dari pengalaman, sebagai hasil pengamatan kita terhadap lingkungan sekitar.

Misalnya saja nilai kuliah Anda bagus, kemudian Anda mendapat pujian, dan mendapat hadiah.

Kemudian Anda akhirnya berusaha mendapatkan nilai yang baik setiap ujian.

Seorang anak kecil yang dipuji karena sopan, akan menyenangi kesopanan dalam hidupnya, dan berusaha untuk sopan.

Anak kecil yang setiap ujian nya mendapat nilai jelek dimarahi orang tuanya, akan menjadi sangat takut ketika ia mendapat nilai jelek.

Dia mungkin menyembunyikan hasil ujiannya sebisa mungkin dari orang tuanya.

Watson bersama Rosalie Rayner di John Hopskin menjalankan sebuah eksperimen untuk menimbulkan dan menghilangkan rasa takut.

Albert B seorang bayi sehat yang baru berusia 11 bulan yang tinggal di rumah perawatan anak-anak sebagai subjeknya.

Albert menyenangi tikus putih, dan sekarang rasa takut diciptakan.

Ketika Albert menyentuh tikus tersebut, sebuah baja dipukul dengan keras tepat di belakang kepalanya.

Albert terkaget, dan langsung menelungkupkan mukanya ke kasur.

Proses ini diulangi lagi, dan Albert mulai bergetar ketakutan.

Seminggu kemudian, tikus putih diberikan kepadanya.

Hasilnya?

Albert mulai menangis, bergetar dan ketakukan.

Eksperimen ini menyimpulkan betapa mudahnya mengendalikan manusia.

Hanya saja behaviorisme tidak bisa menjelaskan perbuatan-perbuatan yang dilakukan karena adanya motivasi dari diri sendiri, kemauan sendiri, kehendak dari diri sendiri.

Mengapa ada orang yang mau melakukan bom bunuh diri, ada orang yang mau menjelajahi benua seperti christopher columbus?

Behaviorisme tidak bisa menjelaskan perbuatan yang ‘self motivated’.

Behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang pasif, seperti robot tanpa jiwa dan nilai.

Karena itu celakalah kita jika kita tidak mau berpikir, dan tidak mau belajar baik-baik.

Kebanyakan orang hanya menerima segala sesuatu mentah-mentah tanpa dipikirkan terlebih dulu.

Banyak orang mempermalukan dirinya dengan mengshare pesan-pesan yang kontroversial di sosial media, yang ternyata adalah hoax.

 

Mengenal Manusia Dari Psikologi Kognitif

Di sini manusia dipandang sebagai pribadi yang aktif terhadap lingkungannya.

Tidak lagi pasif.

Manusia berpikir dan terus mau memahami lingkungannya.

Manusia tidak lagi hanya menjadi korban dari pengalaman seperti di behaviorisme.

Tapi manusialah yang memberi makna pada pengalaman.

Dalam rangkaian angka 1,2,3 misalnya.

1 bisa dianggap sebagai i pada Indonesia.

1 bisa dianggap sebagai el dalam rangkaian k,l,m,n.

Manusia yang memberi makna pada rangsangan yang ada.

Bukan manusia yang digerakkan oleh ransangan tersebut.

Manusia menjadi aktif di sini, pribadi yang berpikir.

Terkenal suatu kalimat yaitu words don’t mean, people mean.

Kata-kata tidak bermakna, oranglah yang memberi makna.

Words don't mean, people mean Click To Tweet

Kita lah yang mempengaruhi pengalaman bukan dipengaruhi oleh pengalaman.

Jika kita mendapat masalah, kita bisa memaknainya sebagai berkat, bukan kita yang menjadi korban masalah.

Sayangnya manusia bukan hanya makhluk yang bisa berpikir tetapi juga mencari identitas dirinya, ini yang akan dilengkapi dalam psikologi humanistik.

 

Mengenali Diri Sendiri Dari Psikologi Humanistik

Manusia dalam kehidupannya bukan hanya berpikir.

Banyak aspek-aspek dalam kehidupan manusia yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang seutuhnya.

Misalnya cinta, nilai, makna , kreativitas, moral, hati nurani, hubungan antar pribadi.

Setiap manusia itu unik,  manusia mencari makna hidupnya, jati dirinya, mau mengembangkan dirinya.

Inilah yang menjadikan kita sebagai manusia yang seutuhnya.

Dari berbagai psikologi di atas saya sendiri paling setuju dengan psikologi humanistik ini.

Celakalah saya jika saya hidup hanya menuruti ‘daging’ saya ini, saya tidak akan lebih dari hewan.

Dan akan terpuruk saya jika saya malas berpikir dan hidup hanya mengalir saja seperti sungai, saya tidak akan berbeda dengan robot.

Anda dan saya sebagai manusia sudah diberi akal dan budi oleh Tuhan, dan yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan memeliharanya dan menggunakannya dengan benar sesuai dengan kehendak-Nya.

Kita memiliki kehendak bebas, bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kita perlu menggunakan kehendak bebas kita untuk memberi makna bagi orang lain.

Makna yang baik tentunya.

Tanpanya kita tidak berbeda jauh dengan binatang atau robot.

Ketika kita hidup tidak ada dampak apa-apa di sekitar kita, ketika kita mati juga tidak ada dampak apa-apa di sekitar kita.

Tentu Anda tidak mau hal tersebut terjadi dalam hidup Anda bukan?

Yang pasti, kita ini adalah manusia ciptaan Tuhan.

Artinya kita serupa dan segambar dengan Tuhan.

Kita berharga dimata-Nya!

Manusia memiliki peta dan teladan Allah.

Bagaimana menurut Anda?

Silahkan menyampaikan pendapat Anda melalui komentar di bawah..

Baca juga : Tips Kehidupan Super Lengkap yang Wajib Anda Ketahui

Sekali lagi, Kenalilah Dirimu!

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *