Dear Generasi Z dan Millenial, Sisihkan Waktumu Sebentar dan Renungkan Ini Sejenak

Dear Generasi Z dan Millenial

Kelahiran generasi millenial dan generasi z jelas akan menimbulkan perubahan yang besar di sejarah. Seperti yang dikatakan Trunk : Baby Boomers changed politics, Gen X changed family, Gen Y changed work, and Gen Z will change education.

Dunia digital, social media, internet seakan membuat standar sendiri untuk sebuah konten visual. Instagram misalnya yang sangat disenangi kaum millenial yang penuh konten visual dan kreatif. Perubahan ini ternyata juga menimbulkan perubahan di dunia pendidikan. Gen Z sangat bosan bila harus diam duduk mendengarkan guru/dosen mengajar dengan cara konvensional di depan kelas. Mereka lebih mengharapkan pengajaran yang menggunakan konten visual menarik serta interaktif.

Jelas ini akan meningkatkan kualitas dan kemerataan pendidikan di Indonesia, pengajaran yang menarik dan inovatif serta bisa diakses darimanapun tanpa membutuhkan biaya yang mahal akan membuat Indonesia menghasilkan orang-orang yang highly intellectual dan skillful serta kreatif.

Namun demikian akankah Indonesia maju? Sekilas iya, tapi tanpa sadar Gen Z dan millenial yang lahir di era digital ini juga menimbulkan masalah yang perlu serius kita perhatikan. Sikap masa bodo hanya akan menimbulkan bahaya, mengingat masa depan tanah air ini akan ditangan mereka nantinya.

Mari kita simak apa saja masalah Gen Z dan millenial tersebut.

1. Mie Instan

Mie instan? Yes.

Mengapa mie instan?

Ini menggambarkan kondisi generasi Z saat ini, yang menginginkan proses serba instan. Disaat generasi lain mengatakan cobalah ini, jika gagal coba lagi sampai berhasil. Maka Gen Z berkata jika gagal, berarti tempat saya bukan disini.

Mungkin ini salah satu dampak dari zaman yang begitu cepat dan instan, mie instan, kopi instan, mengirim pesan instan, sampai brownies pun bisa instan. Semua serba instan.

Perkembangan teknologi dan social media yang bisa diakses siapapun ditambah dengan aspek kreatif yang membuat banyak orang yang menjadi sukses sangat menarik generasi sekarang untuk mengikuti jejak mereka.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ini namun ketika mereka mencoba mengikuti orang-orang yang diatas mereka, mereka lebih fokus pada hasil daripada proses. Mereka tidak mengira kalau orang-orang diatas mereka sudah mengalami proses, mereka hanya ingin hasil yang instan sekarang.

2. Skillful, but Lack of Attitudes

Sering mendengar fenomena kutu loncat? Inilah salah satu masalah yang sering terjadi bagi millenial. Baru masuk kerja berapa bulan, mendapat tawaran kerja perusahaan sebelah dengan gaji lebih tinggi langsung pindah, dan begitu terus.

Belum lagi masalah lack of leadership, banyak sekarang perusahaan yang ketika mau berganti pemimpin, tidak menemukan penggantinya. Belum lagi masalah lain seperti ketika interview kerja jagonya luar biasa tetapi ketika kerja kena pressure sedikit langsung menyerah.  Apalagi ada juga yang tengah jalan bekerja tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa ada kabar.

Skillful memang, tetapi tidak ada attitude. Memang knowledge itu power tetapi attitude is everything. Jangan lupa kalau attitude itu tidak pernah expired.

Seperti kata film Kingsman – Manner Maketh Man

Sangat sedih ketika harus menerima email yang nama emailnya alay, subject tidak ada, langsung isi tanpa ada kata pembuka, huruf kapital, bahkan foto cv menggunakan foto selfie.

Where is your email manner?

Mungkin inilah dampak dari social media yang membuat generasi ini lebih peduli dengan eksisnya mereka, famous, diakui secara follower daripada memiliki deep focus dalam perkembangan diri mereka dan profesional skill.

Berapa generasi muda banyak yang lebih peduli dengan hobi traveling daripada berinvestasi demi masa depan?

3. Hilangnya Deep Thinking

Dengan bermunculannya UGC / User Generated Content atau konten yang dibuat oleh perorangan, membuat generasi ini lebih percaya terhadap konten-konten tersebut. Dengan banyak konten pengetahuan yang menarik dari youtube, google mereka bisa mempelajarinya dengan menyenangkan dan mudah.

Namun dengan mudahnya akses ini membuat generasi ini kurang bisa melakukan deep thinking, berpikir secara mendalam dan kritis dalam menilai segala sesuatu. Belum lagi dengan notif social media yang terus bermunculan sangat mengatraksi mereka dalam proses deep thinking ini.

Tidak heran saat ini begitu mudahnya konten hoax disebarkan, karena orang yang mendapatnya langsung percaya dan  menyebakarkannya begitu saja tanpa berpikir dulu secara kritis, tanpa berpikir apakah konten ini bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?

I hope siapapun yang membaca tulisan ini terutama generasi millenial dan generasi Z mengingat kembali betapa penting masalah attitudes. By the way, saya sendiri termasuk generasi millenial, tapi percakapan orang-orang generasi X sangat menganggu telinga saya, sampai saya berpikir apakah benar generasi sekarang seperti itu?

Sangat disayangkan kenyataanya seperti itu disekeliling saya. Bagaimana menurut Anda? Percuma skillful tapi tidak memiliki value. Pilih mana, skill luar biasa tetapi attitude berantakan atau sebaliknya? Saya pikir lebih baik yang kedua, attitude baik tapi lack of skill, karena skill bisa dilatih, attitude? Bukan tidak mungkin tapi lebih susah merubah attitude daripada melatih skill.

Dear gen millenial dan gen Z mari bersama saling mengingatkan dan mengembangkan value kita,(ingat attitude tidak pernah expired di zaman apapun), bukan hanya skill, karena masa depan berikutnya ada ditangan kita. Ingat tidak ada shorcut, nikmatilah proses yang ada, karena kita terbentuk melalui proses. Bahkan game yang menggunakan cheat menjadi tidak seru bukan?

 

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *