Caramu Berkomunikasi & Berpendapat Menentukan Kesuksesanmu

Serombongan mahasiswa berkumpul di sebuah warung kopi malam-malam. Mereka asyik memperdebatkan siapa yang bakal jadi juara liga Inggris musim ini. Bayangkanlah dirimu sebagai A di malam itu. Kamu adalah mahasiswa paling pintar punya klub jagoan bernama Liverpool. Sementara tiga lawan debatmu sama-sama suka Manchester United. Lalu mulailah kamu di-bully. Sebabnya sepele. Kamu nggak punya argumen kuat untuk membalas pertanyaan tentang kenapa Liverpool lebih hebat dari Manchester United. Padahal kamu mahasiswa berprestasi. IP-mu tinggi. Lalu kenapa kamu tidak bisa berargumen lebih baik dibandingkan lainnya? Seharusnya kamu kan bisa berpendapat lebih baik daripada mereka? Karena tidak bisa mengungkapkan pendapat kamu marah, dan meninggalkan warung kopi itu. Kamu pulang ke rumah dengan perasaan dongkol karena klub kesayanganmu diledek habis-habisan. Yah, terkadang ada saja tipe orang yang memang secara akademis bagus. Nilai-nilainya di kampus termasuk tinggi dan dia termasuk salah satu murid terpintar di kampus. Akan tetapi ternyata dia adalah orang yang lemah dalam hal komunikasi verbal, alias nggak bisa mengutarakan pendapatnya dengan baik. Kayaknya ada banyak orang dengan tipe seperti itu. Mungkin kamu salah satunya. Memang sih, ketidakmampuan untuk mengutarakan pendapat di depan orang banyak bukan hanya dialami satu dua orang. Umumnya mereka yang lemah dalam komunikasi verbal punya banyak alasan untuk itu. Salah satunya adalah ketakutan untuk mengemukakan pendapat. Saya pernah mengalami kesulitan mengemukakan pendapat di hadapan banyak orang. Ketakutan saya yang terbesar adalah pendapat saya tidak diterima, dan saya kemudian merasa diri saya lemah. Jadi untuk menghindari kemungkinan macam itu, saya memilih diam dan tidak pernah berusaha mengemukakan pendapat di dalam diskusi apapun. Lagipula, dulu saya adalah orang yang sebisa mungkin berusaha menghindari ketegangan konflik karena perbedaan pendapat. Tetapi cara seperti ini salah, sebab berbagi pendapat sebetulnya adalah hal lumrah. Kemampuan kita memberi opini adalah anugerah sang pencipta, yang diberikan dengan tujuan supaya orang bisa berkomunikasi dengan sehat. Plus, melontarkan pendapat sebetulnya juga bentuk kebebasan. Jadi siapa pun, termasuk kamu, punya kebebasan melontarkan pendapat tertentu. Simon Clarke menyebut dalam artikelnya berjudul The Self-Development Argument for Individual Freedom, bahwa kebebasan bagus untuk mengembangkan diri. Kebebasan membantumu untuk mengembangkan kapasitas diri serta mental. Jadi, kenapa mesti membatasi kebebasanmu untuk mengungkapkan pendapat? Rasanya itu nggak sehat buat kamu. Tapi bagaimana dengan kamu yang kurang berani mengungkapkan pendapat karena takut salah atau takut menyebabkan konflik? Ada beberapa cara untuk mengatasinya. Begini caranya: 1.Cobalah menjadi pendengar yang baik dulu Pada dasarnya seorang manusia mungkin selalu minta didengarkan. Dan biasanya orang yang selalu minta didengarkan adalah orang yang egois. Dalam sebuah diskusi atau perbincangan, setiap orang yang terlibat cenderung mau menang sendiri. Bila kamu termasuk orang itu, maka cobalah untuk mendengarkan opini orang lain dengan baik. Resapi pelan-pelan apa yang diomongkan orang, kemudian menanggapinya pelan-pelan. 2. Utarakan pendapat walau sulit Setelah belajar menyimak apa kata orang, sekarang saatnya kamu mengutarakan pendapat pribadimu. Orang yang lemah kemampuan verbalnya akan merasa sulit awalnya, namun seiring waktu berjalan kamu harus mencoba untuk mengemukakan pendapatmu sendiri. Kemukakan pendapat dengan cara serasional mungkin. Tawarkanlah solusi spesifik untuk suatu masalah yang memunculkan perbedaan pendapat. Bila tidak ada solusi, bisa jadi masalahnya hanya karena miskomunikasi (atau memang lawan bicaramu selalu mau menang sendiri). Kalau memang lawan bicaramu maunya menang sendiri, sebaiknya kamu melakukan hal ketiga. 3. Tetap kalem dalam perdebatan panas Tetap kalem walau itu sulit. Dengan begitu kamu bisa menurunkan kadar stres yang muncul karena sebuah perdebatan (atau pem-bully-an). Ketika kamu bisa tetap kalem dalam situasi paling panas sekalipun, maka kamu bisa berpikir logis dan membuat keputusan rasional. Jangan malah marah-marah atau bertindak defensif, karena itu akan membuatmu tak bisa menerima pendapat orang lain. 4. Percaya diri Kamu bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan, hanya jika kamu terbiasa melakukannya. Untuk melontarkan argumen, yang harus kamu miliki hanya kepercayaan diri dan keyakinan untuk melontarkan argumenmu. 5. Selalu bersikap sopan ketika beragumen Sudahkah kamu jadi pendengar yang baik; sudahkah kamu berani mengutarakan pendapat; sudahkah kamu bersikap kalem dalam perdebatan panas; sudahkah kamu percaya diri? Bila semua sudah dilakukan, hal berikutnya adalah bersikap sopan. Bila kamu tidak setuju dengan pendapat orang lain, misalnya, maka kemukakanlah pendapatmu dengan cara begini: “pendapatmu itu oke. Tapi bolehkah aku menyampaikan pendapatku dari sudut pandang lain?” Dengan melakukan hal itu, maka lawan bicaramu akan lebih menghargaimu. Lalu mengapa melatih kemampuan berpendapat jadi sesuatu yang penting? Kamu nantinya akan bertemu banyak orang, bahkan mungkin bakal melakukan pekerjaan tertentu dalam sebuah tim yang diisi beberapa orang. Karena itulah mengembangkan kemampuan komunikasi verbal (atau berbagi pendapat dan opini bersama orang lain) jadi hal penting untuk dipikirkan mulai sekarang. Sebab kamu tentu tidak ingin dianggap sebagai orang yang biasa-biasa saja, bukan?

credit : Elliott Chau

 

Serombongan mahasiswa berkumpul di sebuah warung kopi malam-malam. Mereka asyik memperdebatkan siapa yang bakal jadi juara liga Inggris musim ini.

Bayangkanlah dirimu sebagai A di malam itu. Kamu adalah mahasiswa paling pintar punya klub jagoan bernama Liverpool. Sementara tiga lawan debatmu sama-sama suka Manchester United.

Lalu mulailah kamu di-bully. Sebabnya sepele. Kamu nggak punya argumen kuat untuk membalas pertanyaan tentang kenapa Liverpool lebih hebat dari Manchester United.

Padahal kamu mahasiswa berprestasi. IP-mu tinggi. Lalu kenapa kamu tidak bisa berargumen lebih baik dibandingkan lainnya? Seharusnya kamu kan bisa berpendapat lebih baik daripada mereka?

Karena tidak bisa mengungkapkan pendapat kamu marah, dan meninggalkan warung kopi itu. Kamu pulang ke rumah dengan perasaan dongkol karena klub kesayanganmu diledek habis-habisan.

Yah, terkadang ada saja tipe orang yang memang secara akademis bagus. Nilai-nilainya di kampus termasuk tinggi dan dia termasuk salah satu murid terpintar di kampus.

Akan tetapi ternyata dia adalah orang yang lemah dalam hal komunikasi verbal, alias nggak bisa mengutarakan pendapatnya dengan baik.

Kayaknya ada banyak orang dengan tipe seperti itu. Mungkin kamu salah satunya. Memang sih, ketidakmampuan untuk mengutarakan pendapat di depan orang banyak bukan hanya dialami satu dua orang.

Umumnya mereka yang lemah dalam komunikasi verbal punya banyak alasan untuk itu. Salah satunya adalah ketakutan untuk mengemukakan pendapat.

Saya pernah mengalami kesulitan mengemukakan pendapat di hadapan banyak orang. Ketakutan saya yang terbesar adalah pendapat saya tidak diterima, dan saya kemudian merasa diri saya lemah.

Jadi untuk menghindari kemungkinan macam itu, saya memilih diam dan tidak pernah berusaha mengemukakan pendapat di dalam diskusi apapun.

Lagipula, dulu saya adalah orang yang sebisa mungkin berusaha menghindari ketegangan konflik karena perbedaan pendapat.

Tetapi cara seperti ini salah, sebab berbagi pendapat sebetulnya adalah hal lumrah. Kemampuan kita memberi opini adalah anugerah sang pencipta, yang diberikan dengan tujuan supaya orang bisa berkomunikasi dengan sehat.

Plus, melontarkan pendapat sebetulnya juga bentuk kebebasan. Jadi siapa pun, termasuk kamu, punya kebebasan melontarkan pendapat tertentu.

Simon Clarke menyebut dalam artikelnya berjudul The Self-Development Argument for Individual Freedom, bahwa kebebasan bagus untuk mengembangkan diri.

Kebebasan membantumu untuk mengembangkan kapasitas diri serta mental. Jadi, kenapa mesti membatasi kebebasanmu untuk mengungkapkan pendapat? Rasanya itu nggak sehat buat kamu.

Tapi bagaimana dengan kamu yang kurang berani mengungkapkan pendapat karena takut salah atau takut menyebabkan konflik?

Ada beberapa cara untuk mengatasinya. Begini caranya:

  1. Cobalah menjadi pendengar yang baik dulu

Pada dasarnya seorang manusia mungkin selalu minta didengarkan. Dan biasanya orang yang selalu minta didengarkan adalah orang yang egois. Dalam sebuah diskusi atau perbincangan, setiap orang yang terlibat cenderung mau menang sendiri.

Bila kamu termasuk orang itu, maka cobalah untuk mendengarkan opini orang lain dengan baik. Resapi pelan-pelan apa yang diomongkan orang, kemudian menanggapinya pelan-pelan. Jangan lupa untuk mengenali diri sendiri dulu sebelum mengenal orang lain.

  1. Utarakan pendapat walau sulit

Setelah belajar menyimak apa kata orang, sekarang saatnya kamu mengutarakan pendapat pribadimu. Orang yang lemah kemampuan verbalnya akan merasa sulit awalnya, namun seiring waktu berjalan kamu harus mencoba untuk mengemukakan pendapatmu sendiri.

Kemukakan pendapat dengan cara serasional mungkin. Tawarkanlah solusi spesifik untuk suatu masalah yang memunculkan perbedaan pendapat. Bila tidak ada solusi, bisa jadi masalahnya hanya karena miskomunikasi (atau memang lawan bicaramu selalu mau menang sendiri).

Kalau memang lawan bicaramu maunya menang sendiri, sebaiknya kamu melakukan hal ketiga.

  1. Tetap kalem dalam perdebatan panas

Tetap kalem walau itu sulit. Dengan begitu kamu bisa menurunkan kadar stres yang muncul karena sebuah perdebatan (atau pem-bully-an).

Ketika kamu bisa tetap kalem dalam situasi paling panas sekalipun, maka kamu bisa berpikir logis dan membuat keputusan rasional. Jangan malah marah-marah atau bertindak defensif, karena itu akan membuatmu tak bisa menerima pendapat orang lain.

  1. Percaya diri

Kamu bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan, hanya jika kamu terbiasa melakukannya. Untuk melontarkan argumen, yang harus kamu miliki hanya kepercayaan diri dan keyakinan untuk melontarkan argumenmu. Temukan juga jati dirimu yang sesungguhnya.

  1. Selalu bersikap sopan ketika beragumen

Sudahkah kamu jadi pendengar yang baik; sudahkah kamu berani mengutarakan pendapat; sudahkah kamu bersikap kalem dalam perdebatan panas; sudahkah kamu percaya diri?

Bila semua sudah dilakukan, hal berikutnya adalah bersikap sopan. Bila kamu tidak setuju dengan pendapat orang lain, misalnya, maka kemukakanlah pendapatmu dengan cara begini: “pendapatmu itu oke. Tapi bolehkah aku menyampaikan pendapatku dari sudut pandang lain?”

Dengan melakukan hal itu, maka lawan bicaramu akan lebih menghargaimu.

Lalu mengapa melatih kemampuan berpendapat jadi sesuatu yang penting?

Kamu nantinya akan bertemu banyak orang, bahkan mungkin bakal melakukan pekerjaan tertentu dalam sebuah tim yang diisi beberapa orang. Karena itulah mengembangkan kemampuan komunikasi verbal (atau berbagi pendapat dan opini bersama orang lain) jadi hal penting untuk dipikirkan mulai sekarang.

Sebab kamu tentu tidak ingin dianggap sebagai orang yang biasa-biasa saja, bukan? Baca juga : Cara Meramal Masa Depan Diri Sendiri

 

Kompromi dan Kerjasama itu Perlu, Demi Komunikasi yang Baik

Salah satu tema menarik yang sering menjadi pembahasan di setiap perbincangan tentang kualitas sumber daya manusia adalah bagaimana seseorang mengembangkan kemampuannya untuk bekerjasama dan berkomunikasi dengan orang lain dalam satu tim.

Kamu mungkin bukan tipe orang yang bisa tersenyum ramah kepada orang lain; dan selanjutnya kamu mungkin bukan tipe orang yang senang untuk berbasa-basi ketika berbicara dengan orang lain.

Singkat kata, selalu saja ada orang yang tidak bisa bersikap ramah kepada orang lain. Apakah kamu tahu bahwa kehidupan adalah soal bagaimana kamu berinteraksi dengan orang lain, entah itu dalam lingkup pekerjaan atau dalam lingkup kehidupan yang lain?

Yang mau saya bicarakan ini adalah bagaimana caranya supaya kamu bisa berkomunikasi dengan orang lain, selalu berpikiran terbuka, sembari berusaha mengembangkan kemampuan interpersonal yang baik. Dengan kemampuan interpersonal yang baik, kepribadianmu tentu juga akan semakin berkembang.

Ada sebuah artikel menarik mengenai kemampuan interpersonal, di mana artikel tersebut mengungkap tentang betapa pentingnya kemampuan berkomunikasi. Sebab kesuksesan individual juga tergantung pada bagaimana kamu berinteraksi dengan orang lain.

Memberikan pujian atas kesuksesan orang, atau berterima kasih karena sudah dibantu, juga bentuk komunikasi interpersonal paling sederhana loh. Kamu sudah melakukannya?

Lantas bagaimana caranya untuk mengembangkan kemampuan interpersonal? Ada banyak cara untuk melakukannya, tapi saya hanya mau menunjukkan tiga hal penting saja.

  • Komunikasi nonverbal juga penting

Yang dimaksud komunikasi nonverbal di sini termasuk ekspresi wajah, bagaimana kamu menggunakan sentuhan dan nada suaramu ketika berbicara dengan orang lain. Dalam situasi ketika kamu sedang bahagia, misalnya, akan jadi lebih efektif bila kamu menunjukkan ekspresi wajahmu dengan tersenyum.

Jadi pada dasarnya komunikasi non-verbal penting untuk ditingkatkan kualitasnya. Jenis komunikasi satu ini mencakup beberapa hal seperti kontak mata, nada bicara, cara berpakaian, bahasa tubuh, serta postur yang kamu tunjukkan ketika berbicara dengan orang lain.

  • Menunjukkan perilaku positif

Perilaku positif merupakan salah satu komponen terpenting dalam pengembangan kemampuan interpersonal. Perilaku positif pada dasarnya akan menunjukkan banyak hal terkait dengan kedewasaan ketika seseorang berbicara. Kamu bisa menunjukkan rasa hormatmu kepada organisasi dan pekerjaanmu bila kamu mampu menunjukkan perilaku positif di tempat kerja.

Lalu apa saja tanda bahwa kamu punya perilaku positif? Gampang saja. Menunjukkan wajah bahagia, atau tersenyum ketika bertemu kolega dan teman satu tim, merupakan cara-cara untuk menunjukkan rasa hormatmu kepada orang lain.

Apalagi kalau kamu menyelamati seorang kawan yang baru saja menerima promosi di perusahaan tempatmu bekerja, ini juga bisa jadi sebuah gestur positif untuk menunjukkan rasa hormatmu kepada kantor tempatmu bekerja.

  • Jangan menganggap dirimu eksklusif

Hanya karena kamu lulusan universitas terkenal yang diterima di sebuah perusahaan terkenal, bukan berarti lantas kamu mesti bersikap eksklusif atau meremehkan orang lain di sekitar tempat kerjamu. Percayalah, gelar dari universitas terkenal tidak bakal menjamin apapun.

Pada dasarnya kamu sedang bekerja dengan orang lain dalam sebuah perusahaan yang sama, dan bukan sedang bekerja sebagai agen rahasia di negaramu. Jadi akan lebih baik bila kamu tidak merasa spesial dan berusaha mengerjakan semuanya sendirian. Selalu ikut sertakan orang lain yang mau bekerja bersamamu.

Ketika bekerja dengan orang lain, kamu juga harus berusaha mendengarkan sekaligus berbicara dengan orang lain mengenai ide-ide tertentu yang mungkin muncul dalam sebuah proyek pekerjaan.

Sebab hidup selalu penuh kejutan, dan mungkin kamu tidak akan menyangka sebuah ide brilian bisa keluar dari pikiran anggota tim yang justru tidak kuliah di universitas terkenal. Singkat kata: kerja tim selalu lebih baik dibandingkan kerja sendirian.

Ketika bekerja, berarti kamu harus selalu siap untuk menciptakan harmoni sosial, dan ini adalah hal yang diminta dari masyarakat.

Jadi bila kamu tidak siap bekerjasama dengan orang lain, bagaimana mungkin kamu meminta orang lain untuk bekerja bersamamu? Jadi akan lebih bagimu untuk menyingkirkan jauh-jauh rasa sombong dan merasa eksklusif.

Dalam kehidupan, terutama yang berhubungan dengan kerja, seringkali kita melihat orang-orang yang mengeluh terhadap kantor mereka. Dan itu dilakukannya setiap hari.

Nah, di sinilah pentingnya mengapresiasi, dalam arti kamu harus bisa menghargai pekerjaanmu, orang-orang yang bekerja denganmu, dan jangan mengeluh tentang mereka.

Mengucapkan terima kasih untuk bantuan – sekecil apapun – yang diberikan teman kantormu, kemudian tersenyum kepada mereka, menjadi usaha kecil untuk menghargai lingkungan di mana kamu bekerja. Dengan cara itu pula kualitas individumu bakal lebih berkembang di masa depan.

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *