Bosan Hidup? Inilah Tujuan dan Arti Hidup Manusia yang Sesungguhnya!

Inilah Tujuan dan Arti Hidup Manusia yang Sesungguhnya

Credit : Vv

 

Terlalu sibuk dengan kehidupan kadang membuat kita lelah dan bingung dengan tujuan dan arti hidup. Bacalah tulisan ini sejenak dan refresh lagi dirimu!

Perubahan zaman begitu cepat, tanpa kita sadari ketika seseorang mengatakan 20 tahun yang lalu, kita mengira itu adalah sekitar tahun 1970-1980 an. Nyatanya ternyata 20 tahun lalu adalah 1990-an.

Anak yang lahir di tahun 2000 di tahun 2017 sudah 17 tahun. jika sudah 2020 maka mereka 20 tahun.

Uniknya dari tahun 1980-2000an seperti sekarang ini, bisa dibilang perubahan zaman paling banyak sepanjang sejarah manusia adalah di abad milenial ini.

Masa pertanian, agrikultural membutuhkan waktu ratusan-ribuan tahun, sebelum memasuki zaman industrial, zaman industrial juga berlangsung ratusan tahun.

Anehnya dari abad 20 (1900) sampai 21 (2000) ini merupakan abad di mana teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Dari masih memakai kuda, baru berapa puluh tahun sudah ada mobil. Baru ada mobil sudah ada pesawat terbang.

Baru ada radio, berapa tahun kemudian sudah ada handphone dengan internetnya, baru berapa tahun kemudian lagi sudah ada smartphone dengan dunia digital, social media yang dahsyat lagi.

Jika dulu membutuhkan ribuan tahun untuk menggeser sebuah zaman, kini hanya butuh kurang dari setengah abad hanya untuk menggeser dua zaman sekaligus yaitu pertanian dan industri, dan beralih ke zaman informasi.

Perubahan yang sedemikian cepat merupakan hal yang diluar ekspetasi manusia seperti kita, yang terlambat mengikuti perubahan akan punah begitu saja.

Wajar jika semua orang kaget dengan perubahan yang drastis ini, termasuk Anda dan saya. Padahal perubahan suhu derajat yang mendadak dan cepat saja bisa berakibat buruk bagi kesehatan kita, siang ini panas, sore hujan, malamnya panas lagi. Apalagi dengan perubahan zaman seperti ini?

Ilmu yang kita pelajari disekolah / kuliah tahun ini, bisa saja 3 tahun lagi sudah tidak relevan dengan zamannya.Untuk itu kita tidak bisa tidak berhenti belajar meski sudah selesai masa sekolah.

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” ― Albert Einstein Click To Tweet

Baru rasanya awal tahun membuat resolusi yang sudah clear, sekarang rasanya resolusi tersebut harus disesuaikan lagi dengan keadaan.

Inilah perubahan zaman, teknologi, ilmu pengetahuan yang pesat.

Pertanyannya adalah . . .

Apakah dengan perubahan tersebut kehidupan manusia lebih bahagia?

Apa dengan lebih banyak teori baru bermunculan, teknologi baru bermunculan, kita manusia lebih bahagia?

Apakah manusia menjadi lebih puas, damai, tentram di dalam hatinya?

Apakah manusia jadi lebih tahu arti hidupnya atau tujuan hidupnya?

Tentu Anda dan saya tahu apa jawabannya.

Sayang sekali jawabannya harus tidak.

Manusia tidak lebih bahagia dari orang-orang zaman dulu, kejahatan juga tetap ada seakan Tuhan mengizinkanNya, masalah demi masalah juga tidak pernah selesai meski banyak teori dan solusi bermunculan.

Jika saat ini saya menanyakan satu hal kepada Anda, Apakah Tujuan HidupMu?

Apa yang akan Anda jawab?

Jika Anda masih berpikir saat ini, bisa jadi Anda belum tahu apa arti hidup Anda yang sesungguhnya.

Jika sudah tahu jelas kita akan langsung menyebutkannya meskipun dalam hati.

Jika Anda sudah tahu tujuan hidup Anda, sudahkah Anda membuat planning yang spesifik untuk mencapai tujuan tersebut?

Sudah berapa persen Anda mencapainya atau belum sama sekali dan hanya ada di angan-angan?

Tidak masalah jika Anda belum tahu, karena dulu saya juga sama seperti Anda.

Saya agak sedih dengan pertanyaan-pertanyaan tentang arti / tujuan kehidupan seperti ini tidak diajarkan dengan baik dalam sekolah, padahal inilah yang terpenting sebenarnya.

Pertanyaan Mengapa Kita Melakukan Hal Ini? Jarang ada jawabannya, kita lebih sering bergerak mengikuti arus seperti ikan mati. So sad 🙁

Mengapa kita perlu mempelajar hal ini? Mengapa kita perlu belajar matematika?

Kita mungkin sering mempertanyakan hal-hal tersebut, ironisnya kita jarang mendapat jawabannya dan tetap melakukan suatu hal yang kita tidak tahu untuk apa sebenarnya itu kita lakukan.

Jawaban paling sederhana adalah kita sekolah agar bisa bekerja nantinya, mendapat uang dan melanjutkan hidup.

Jadi kita bekerja hanya untuk bisa makan, berkeluarga, ya begitu terus, melanjutkan hidup dari zaman nenek moyang kita juga begitu hanya untuk melanjutkan hidup.

But, benarkah itu? Apa benar kita hidup hanya untuk melanjutkan hidup?

Jika benar, apa bedaya sekarang kita dengan kucing yang juga melanjutkan hidup?

Bedanya kita bisa berpikir, berbicara . . .

Tidak jarang juga kita sudah sibuk dengan berbagai kegiatan, sibuk ini, sibuk itu, banyak kerjaan sampai lupa satu hal.

Untuk Apa Kita Melakukan Hal Tersebut?

Apa jawaban Anda?

Kita perlu satu waktu stop melakukan pekerjaan kita, santai sejenak dan merenungkan hal-hal penting ini yang jarang kita pikirkan.

Apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini?

Sebenarnya kita tahu jawabannya, dilubuk hati kita yang paling dalam kita sadar apa jawabannya, bahkan mengalaminya, hanya saja kita lebih sering tidak peduli dengan hal ini.

Sebenarnya yang kita cari adalah Hal yang Kekal, yang Sifatnya Bukan Sementara, namun Permanen.

Apa maksudnya?

Kita mencari sesuatu yang bersifat selamanya, bukan hal yang fana.

Membingungkan? Yuk, kita lihat lagi

Hal yang sifatnya sementara/fana biasa dalam berbentuk fisik atau bisa dilihat dengan mata kita,

Sedangkan hal yang sifatnya kekal sifatnya non fisik atau tidak kelihatan oleh mata kita

Memang kita manusia melihat fisik, namun yang tidak kelihatan itulah yang lebih berharga sebenarnya

Ketika kita melihat satu rumah yang bagus

Kita dalam hati bisa berkata andai punya rumah sebagus itu, mungkin hidupku akan lebih bahagia

Padahal keluarga yang bahagia bukan dilihat dari rumahnya tapi bagaimana hubungan mereka

House dan Home adalah dua hal yang berbeda

House adalah rumah secara fisik

Sedangkan home bukan berbicara tentang tempatnya, tapi dengan siapa kita tinggal bersama, bagaimana hubungan antar anggota keluarga, seberapa dekat hubungan kita

Home bukan berbicara tentang place, tetapi “Feeling” nya. Apakah kita senang tinggal bersama dengan orang yang bersama dengan kita? “Feel” inilah yang tidak kelihatan yang sebenarnya kita cari dan sifatnya kekal

Percuma jika House nya bagus tapi hubungan antar sesamanya buruk, berantakan, setiap hari kerjanya bertengkar, yang ada kita sengsara tinggal di sana

Housenya mungkin biasa saja, tapi suasanya,  hubungan antar anggota keluarga harmonis, jelas ini lebih membahagiakan

Rumah bisa berganti namun suasana home yang baik tetap bisa tercipta jika hubungan antar sesama yang dekat dan menyenangkan.

Feel yang kita dapatkan inilah yang akan terus kita ingat sampai menjadi kenangan kita.

Contoh lainnya misalnya ketika kita liburan

Jika liburan kita pergi ke luar negeri, ke tempat terbaik dengan pesawat terbaik sekalipun namun berpergian dengan musuh kita, akankah kita bahagia? Yang ada penderitaan

Tapi jika kita ke kebun binatang saja, namun dengan orang-orang yang kita sayangi seperti keluarga, saling bercanda, mungkin kakaknya mengejek adiknya “itu monyetnya mirip lu”, semua tertawa. Namun inilah kebahagiaan yang kita dapatkan, inilah “Feel” yang kita cari sebenarnya, setuju?

Bukan masalah tempatnya sebagus apa, semegah apa rumahnya, seluar biasa apapun fisiknya, namun masalahnya adalah “Feel” apa yang akan kita dapatkan.

Feel itulah yang kita cari, dan hanya bisa kita dapatkan melalui hubungan yang baik dan sehat dengan orang lain

jalan-jalan dengan musuh ke luar negeri atau jalan-jalan dengan teman dekat kita di dalam kota saja? Tentu lebih bahagia jalan dengan teman dekat kita di dalam kota.

Inilah “Feel” yang tidak kelihatan, namun bersifat kekal. Kenangan, hubungan yang baik tidak bisa dibeli dengan uang/ dengan fisik.

Setujukah Anda?

It’s All About The Feel! Inilah yang kita cari dan tidak bisa kita beli

Money can buy a House-But not a Home
Money can buy a Bed-But not Sleep
Money can buy a Clock-But not Time
Money can buy you Medicine-But not Health
Money can buy you Sex-But not Love
Money can buy a book, but not knowledge.
Money can buy food, but not an appetite.
Money can buy position, but not respect.
Money can buy blood, but not life.
Money can buy insurance, but not safety.

-Unknown

Bukan Fisiknya yang penting, Namun yang tidak kelihatanlah yang lebih penting!

Yang kelihatan sifatnya sementara namun yang tidak kelihatan sifatnya kekal

Menyambung lagi pertanyaan di atas

Untuk Apa Kita Melakukan Hal Tersebut?

Untuk apa kita bekerja?

Untuk apa kita mencari uang?

Untuk apa kita membangun hidup?

Untuk apa kita hidup?

Jawabannya simpel :

Pertama, Untuk Tuhan

Sadarkah Anda memang “Feel” yang kita cari itu tidak kelihatan dan kekal,

Namun sebelum Feel yang pertama adalah Tuhan dulu, Siapa yang tidak kelihatan, namun ada dan abadi yang artinya dari dulu sampai selama-lamanya ada?

Jelas Tuhan jawabannya

So jangan bekerja / melakukan sesuatu hanya untuk diri sendiri tetapi bekerja juga seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia saja, karena dasarnya kita berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan

Karena bekerja / melakukan sesuatu untuk Tuhan tentu kita tidak akan melakukannya dengan asal-asalan atau sembarangan

Kedua, Untuk Orang Lain

Percuma jika kita bekerja / melakukan sesuatu dengan rajin, jujur, penuh integritas tapi hanya untuk diri sendiri

Tidak ada bedanya kita nantinya dengan kucing

Lakukanlah segala sesuatu / menghasilkan karya agar hasilnya bisa dibagikan juga ke orang lain, orang lain mendapat manfaat dari hidup kita, dari apa yang kita sharingkan

Sehingga kita membantu orang lain mendapatkan “Feel” itu juga dengan kehadiran kita, bukanya ketika memberi kita juga akan mendapat kembali? Jika mereka senang, kita juga akan senang dan mendapatkan “Feel” itu kembali

Itulah salah satu alasan mengapa saya membuat blog  reformingheart.com ini, agar bisa membantu orang lain, memberikan insight baru bagi orang yang membacanya, dan mencapai Dream Lifenya, Anda senang, saya juga senang.

Sebagai penutup berikut saya kutip kesimpulan dari buku yang berjudul young man and crisis age yang ditulis oleh StephenT :

“Diungkapkan bahwa ada 4 hal kebutuhan yang paling besar bagi manusia, yaitu :

  1. Kebutuhan akan kasih
  2. Kebutuhan akan pengampunan
  3. Kebutuhan akan tujuan hidup
  4. Kebutuhan akan pengharapan

Jika manusia sampai kehilangan keempat hal ini, maka ia akan menjadi gila dan dapat membunuh dirinya sendiri.

Tidak ada kompromi untuk hal-hal yang essensial seperti ini

TIdak ada perbedaan, entah Anda orang kaya atau orang miskin, orang berkedudukan atau rakyat jelata, orang berpendidikan tinggi atau bersahaja

Pada saat seseorang kehilangan identitas, kehilangan pengharapan, kehidlangan tujuan hidup, kehilangan kasih dan pengampunan maka ia akan membunuh dirinya sendiri.”

Saya pikir kesimpulan diatas sangat benar dan perlu kita renungkan bersama untuk kehidupan yang lebih baik

Jangan lupa share artikel ini ke teman-teman Anda jika bermanfaat

Dan sampaikan pendapat Anda melalui komentar di bawah

Semoga Bermanfaat!

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *