Bolehkah kita Menjadi “Yes Man”? Apakah Bahayanya?

Bolehkah kita Menjadi “Yes Man”?

Bolehkah kita Menjadi “Yes Man”?

Sebenarnya yes man adalah  . . .

Yes man artinya?

Siapa sangka Jebakan berkata ‘ya’ dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat hidup kita nyungsep. Mari menyimak apa itu jebakan yes man melalui sinopsis film yes man berikut :

Carl adalah seorang pria pemurung dan penyendiri, dan semakin parahlah tabiatnya setelah perceraiannya dengan istrinya Stephanie.

Sejak itu sifat-sifat negatif mengurung keberadaan Carl. Dia selalu menganggap negatif segala hal terkait dirinya, dan tingkahnya ini menyakiti Pete dan Rooney, dua orang yang dekat dengan Carl sebagai teman.

Tetapi bukan berarti Carl tidak sadar ada yang tidak beres dengan dirinya. Teman lamanya, Nick, menyarankan agar Carl mengikuti seminar motivasi berjudul “Yes”, yang pada dasarnya mengajari orang untuk berkata “ya” pada hidupnya.

Singkat cerita, hidupnya berubah sejak dia selalu mengiyakan apapun perkataan orang yang jadi lawan bicaranya. Setelah seminar itu selesai, Carl berjanji bahwa dia akan selalu berkata “ya” untuk setiap kesempatan, permintaan, atau undangan yang mengarah kepada dirinya.

Sejak itulah hidupnya berubah, dan makin membaik. Meski itu baru sepenggal cerita kecil dari sebuah kisah film Yes Man (2008) yang dibintangi oleh Jim Carrey.

Kisah yang saya ketengahkan di atas sebetulnya bukan tipikal kisah yang mengada-ada.

Pada kehidupan sehari-hari tampaknya selalu ada tipe orang yang menghindari ketidaksetujuan dalam sebuah suasana perdebatan, perbincangan, maupun diskusi kecil.

Tipe orang seperti itu biasanya akan melakukan apapun untuk menghindari konflik. Sebab bagi orang tersebut, ketidaksetujuan bukanlah soal sedikit ketidaknyamanan yang mungkin muncul, melainkan penderitaan.

Jadi bagi beberapa orang, menjadi seorang “yes man” seperti Carl adalah jalan untuk menghindari penderitaan. Sayang sekali, untuk itu mengenali diri sendiri terlebih dahulu itu sangat penting.

David DiSalvo menulis sebuah artikel menarik tentang apa yang terjadi dengan pikiran seorang “Yes Man”.

Dia menyebut dua golongan orang lain; pertama adalah tipe yang secara alamiah lebih banyak setuju. Dan kedua adalah tipe orang yang lebih nyaman ketika ada konflik.

Nah, Anda mesti tahu satu hal: tipe orang ketiga, atau “yes man”, adalah tipikal orang yang memilih untuk berhadapan dengan situasi tidak nyaman dengan persetujuan yang nyaris tanpa kritik.

Misalnya Anda terlibat dalam sebuah diskusi panjang mengenai apakah Tuhan itu ada/tidak, atau mana yang lebih dulu, telur atau ayam. Anda sendiri punya pendapat bahwa ayam lebih dulu muncul daripada telur.

Namun karena ada orang lain yang lebih kuat (bos Anda kebetulan duduk di sebelah) posisinya dan dia punya pendapat lain, Anda terpaksa setuju dengannya, walau ada rasa tidak nyaman setelah melakukannya.

Orang seperti ini biasanya cenderung mengalah dan akan selalu berkata “ya” guna mengindari konflik.

Sebelum Anda menilai orang tersebut sebagai individu yang ganjil, kita mesti sadar bahwa otak manusia merupakan bagian organ yang selalu mencari kepastian.

Manusia adalah makhluk yang secara natural menghindari kontradiksi, karena kontradiksi sering memunculkan ketidakpastian, dan ketidakpastian pada gilirannya memicu ketidakstabilan.

Karena itulah seorang manusia cenderung mencari stabilitas, karena otak manusia memang tipikal organ yang selalu mencari stabilitas yang mengarah pada keseimbangan.

Kalau begitu kita harus selalu jadi “yes man”, dong?

Tidak juga. Barangkali demi pengembangan diri, seseorang yang memiliki “bakat” menjadi “yes man” mesti berani mengumbar opini pribadi setiap kali dia ditanyai suatu pendapat; atau setiap kali sebuah diskusi berlangsung.

Atau ketika seseorang dan anggota timnya diminta mengerjakan proyek penulisan sebuah buku 240 halaman selama dua minggu.

Rasanya mustahil bagi kita untuk menulis sebuah buku setebal 240 halaman dalam waktu dua minggu. Karena itulah penolakan menjadi sebuah cara yang masuk akal untuk dilakukan.

Bagaimanapun, hidup adalah soal keseimbangan. Walaupun secara alamiah otak manusia selalu menghindari kecenderungan konflik, namun bukan berarti kita harus menjadi seseorang yang setuju dengan segala hal.

Berani berpendapat dan berani menolak tawaran yang tidak masuk akal merupakan sebuah jalan supaya orang bisa mengembangkan potensi diri dan jati dirinya semaksimal mungkin.

Dan bila Anda sudah mulai melihat bibit-bibit yang segera bertansformasi sebagai “yes man”, sebaiknya  Anda berpikir ulang.

Mengukur kemampuan dan kapasitas diri, memperhitungkan beban-beban rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, di saat bersamaan percaya dengan kemampuan diri sendiri dan berefleksi tentang pencapaian yang sudah dijalani selama ini, menjadi sebuah cara yang lebih baik untuk mengembangkan diri.

Oh ya, di akhir film Carl terbebani dengan lusinan kewajiban yang harus dijalankan setelah menjawab “ya” ke semua orang.

Beban bertambah, pusing kepala semakin parah. Itulah nilai-nilai negatif menjadi konsekuensi ketika orang memutuskan menjadi “yes man”.

Jadi, masih mau jadi “yes man”?

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *