Bagaimana agar Resolusi Tahun Barumu Berjalan 100% Tanpa Gagal?

resolusi tahun baru, resolusi 2017

source : freepik

Mungkin Anda sudah cukup muak dengan kata resolusi. Tiap akhir tahun mencari cara baru membuat resolusi yang pasti berhasil mulai dari metode S.M.A.R.T dan sebagainya, namun nyatanya di akhir tahun malah begadang sampai subuh, makan dan minum soda tidak karuan, bangun kesiangan, baru tanggal 1 tahun baru sudah berantakan hidup kita. Alhasil resolusi tahun baru untuk lari pagi dan makan sehat langsung hancur.

Besoknya? Jangankan menjalankan resolusi, keinginan untuk menjalankannya saja sudah hilang, akhirnya tiap tahun selalu berakhir sama. Tiap akhirnya tahun selalu gagal menjalankan resolusi dan tidak ada yang pernah dicapai.

well menggenaskan bukan? sebenarnya permasalahannya mudah, hanya sulit dilakukan, tapi untungnya tidak mustahil untuk dilakukan.

Resolusi seperti hidup lebih sehat dengan lari pagi setiap hari sebenarnya merupakan kebiasaan.

Permasalahannya adalah membentuk kebiasaan ini yang tidak mudah. Seperti yang dikatakan aristoteles

We are what we repeatedly do. Greatness then, is not an act, but a habit - Aristotle Click To Tweet

Kita adalah perulangan dari apa yang kita lakukan. Kebiasaanlah yang luar biasa bukan apa yang kita lakukan sekali-sekali saja. Banyak yang mengatakan untuk membentuk kebiasaan dibutuhkan 40 hari, perkataan ini benar adanya, kita perlu mengulang-ulang sesuatu untuk membentuk kebiasaan.

Ketika liburan sekolah kita sering bangun siang dan tidur di atas jam 12 malam, akhirnya saat kembali dihari biasa sangat sulit untuk tidur jam 10 malam. Berlaku juga untuk kebiasaan lainnya.

Untuk membentuk kebiasaan, mengulang-ngulang perbuatan perlu lebih dari sekedar niat. Dibutuhkan daya konsistensi yang tinggi. kita sering membaca dan mendengar bahkan bosan terhadap kata-kata konsisten, komitmen, daya resiliensi, motivasi untuk melakukan sesuatu.

Membaca, mendengar, dinasihati untuk komitmen dan sebagainya itu memang mudah tapi mau berapa kali dinasihatipun tetap tidak mudah untuk dilakukan. Sebenarnya bagaimana agar kita bisa berkomitmen terhadap komitmen?

Ada sebuah percobaan yang bernama marhsmallow experiment tahun 1960an yang dilakukan oleh Prof Mischel dari Stanford tentang bagaimana menunda kepuasan bisa mempengaruhi kesuksesan seseorang.

Mischel mengetes sekitar 600 anak kecil berusia 4-5 tahun yang dibawa ke sebuah ruangan, dan di sana anak tersebut diberi 1 marshmallow. Anak boleh langsung memakannya, tetapi jika anak tersebut mau menunggu 20 menit maka Mischel akan kembali dan memberi 1 marshmallow lagi. Begitu terus jika anak tersebut mau menunda kepuasan, menunggu demi mendapat kepuasan lebih nantinya.

Hasilnya sepertiga anak-anak tersebut langsung memakan marshmallow yang ada, sisanya menunggu sampai Mischel kembali dan akhirnya menyerah dengan waktu yang berbeda-beda.

Yang menarik adalah Mishcel mengikuti jejak anak-anak tersebut sampai mereka tumbuh dewasa lebih dari 40 tahun lamanya, hasilnya? anak-anak yang mampu menahan diri mereka untuk memakan marshmallow memiliki nilai akademik dan pemikiran kritis yang lebih tinggi daripada anak-anak yang langsung memakan marshmallow yang ada,  kehidupan sosial dan ekonomi mereka pun juga lebih tinggi.

Atau bisa dibilang anak-anak yang mampu melewati eksperimen marshmallow tersebut lebih sukses kehidupannya dibanding yang tidak.

Mengapa bisa begitu?

Inilah kemampuan yang kita butuhkan saat ini seperti yang dilakukan anak-anak tersebut, yaitu kemampuan menahan rasa sakit, kemampuan untuk menunda kepuasan untuk mendapat kepuasan yang lebih nantinya.

Menunda kepuasan yang seharusnya bisa didapat dengan segera itu menyakitkan tapi jika bisa kita tahan, kita akan mendapat yang lebih nantinya.

Seperti peribahasa yang sering kita dengar bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Bersakit-sakit menahan rasa sakit sewaktu fitness / jogging disaat bisa tidur nyenyak sehingga bisa mendapat badan yang bagus nantinya.

Bersakit-sakit mengatur pola makan disaat bisa makan yang enak tapi tidak sehat sehingga mendapat tubuh yang sehat.

Bersakit-sakit belajar gitar disaat bermain smartphone lebih menyenangkan sehingga bisa lancar bermain gitar.

Inilah kemampuan yang kita butuhkan ketika membuat komitmen sehingga komitmen kita berhasil. Misalnya Anda menargetkan untuk lari setiap pagi ditahun ini. Jelas banyak godaan yang bisa menggagalkan niat Anda, mulai dari ngantuk, malas, dan sebagainya, toh tidur lagi lebih enak daripada lari pagi. Tapi jika Anda bisa menahan keinginan tersebut dan tetap lari setiap pagi tujuan Anda akan tercapai.

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bersosmed ria disaat kita bisa belajar tentang bisnis online sehingga penghasilan kita bisa meningkat tahun ini? Banyak waktu yang kita habiskan untuk hal-hal bodoh yang memang menyenangkan namun jika ditahan dan digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna memang menyakitkan, kita akan mendapat hal yang lebih menyenangkan nantinya.

Inilah yang Anda butuhkan agar resolusi Anda tercapai dalam membuat komitmen dan terus memiliki daya resiliensi / daya untuk berjuang terus menerus yaitu ketekunan untuk menahan rasa sakit dengan menunda kepuasan demi menjalankan komitmen. Sehingga bersenang-senang kemudian. Ketekunan inilah yang mahal.

Kabar baiknya kita tidak perlu terus menahan rasa sakit tersebut karena ada 4 cara untuk menguranginya, sekaligus Anda bisa membuat resolusi berdasarkan 4 patokan ini.

  1. Interest

Miliki kesukaan/minat pada apa yang akan Anda lakukan.

Cintai apa yang Anda lakukan, lakukan apa yang Anda cintai.

Jika Anda menuruh saya belajar akuntansi, yang ada saya malah stress baru 2 hari sudah berhenti. Tetapi jika Anda menyuruh saya menulis blog seperti ini, saya bisa terus meneruskannya, karena saya menyenanginya.

Menyukai apa yang akan Anda lakukan akan sangat menolong Anda dalam menjalankan komitmen Anda.

2. Latihan yang disengaja

Melakukan hal yang sama terus-menerus bisa membuat Anda bosan sehingga hanya seperti rutinitas yang kosong. Rutinitas itu tidak ada salahnya tetapi spirit rutinitas ini yang tidak boleh ada pada kita. Karena menganggap sesuatu rutinitas hanya akan membuat kita cepat bosan dan akhirnya quit dari kegiatan rutin tersebut, padahal rutinitas tidak semuanya jelek.

Untuk itu kita perlu menambah level hal yang kita lakukan dengan sengaja. Dalam melakukan hal apapun yang kita lakukan perlu adanya perkembangan yang terus menerus, jangan sampai stuck. Misalnya Anda sudah terbiasa mengangkat barbel 2kg, jika Anda terus melakukannya selama 1 tahun jelas tidak ada lagi perkembangan yang berarti. Perkembangan harus terus naik, 1 bulan ini bisa mengangkat 2 kg, bulan depan naik jadi 3 kg, bulan berikutnya lagi 4 kg, begitu seterusnya. Tantang terus diri Anda.

3. Tujuan

Bisakah Anda membuat puzzle tanpa melihat gambaran puzzle yang telah selesai terlebih dulu? Bisa saja, tapi prosesnya menjadi sangat lama.

Melakukan segala sesuatu tanpa tujuan hanya akan membuat Anda lenyap di tengah jalan.

Selalu memulai dengan tujuan akhir dipikiran, dapatkan dulu gambaran besar yang ingin Anda capai sebelum memulai.

Bayangkan jika Anda ingin menurunkan berat badan tanpa target yang jelas berapa kg per bulan. Bisa-bisa Anda malah kurang gizi karena diet berlebihan.

4. Harapan

Harapan merupakan unsur terakhir yang penting jika Anda ingin resolusi Anda tercapai.

Apa pengharapan Anda ketika Anda mengambil komitmen untuk lari setiap pagi? Jika Anda tidak yakin berat Anda akan berkurang, itu hanya akan membuat daya konsistensi Anda menurun bahkan lenyap, oleh karena itu tetap miliki pengharapan, itulah yang akan membuat Anda bertahan. Memiliki harapan kalau lari pagi setiap hari akan membuat berat Anda berkurang jelas membuat komitmen Anda lebih bertahan.

Jadi bagaimana jika resolusi saya saat ini sudah gagal?

Tidak masalah jika resolusi Anda sudah gagal saat ini, langsung bangkit lagi, jangan ditunda-tunda. Tunda dulu kepuasan yang mendistraksi kita demi kepuasan berhasil menjalankan resolusi.

Ada harga yang selalu harus kita bayar. Jika gagal lagi? Terus lanjut bangkit lagi, lama kelamaan anggapannya otot kaki Anda akan semakin kuat, meski gagal, tetap terus lanjut, tanpa terasa dengan semakin kuatnya otot kita bisa lari lebih jauh dan lebih lama.

Toh kita adalah apa yang kita lakukan terus menerus. Setelah terbiasa melakukan sesuatu berulang-ulang dengan menahan rasa sakit itu tentunya, pada akhirnya akan menjadi habit kita, karakter kita. Dan jangan lupa untuk menghadiahi diri Anda sendiri atas setiap perkembangan yang ada, apalagi jika sudah menjadi habit, jangan menghukum diri Anda terus atas kegagalan Anda, jika kita tidak bisa menyayangi diri sendiri, kita juga tidak bisa menyayangi orang lain.

Wise people know where he goes and trying hard to achieve it Click To Tweet

Sedikit tips bagaimana membuat resolusi yang benar:

  1. Rencanakan bersama Tuhan
  2. Buat goals yang spesifik, terukur, besar, dapat dicapai, realistis, dan berbatas waktu (jika waktu targetnya terlalu lama, yang ada sudah lupa duluan dengan resolusinya) pada 7 area yaitu : spiritual, keluarga, akademik/pekerjaan, kehidupan sosial, personal growth, finansial
  3. Action plan! (tanpa action yang jelas semuanya sia-sia)

psst, ada satu resolusi yang layak Anda pertimbangkan yaitu membaca buku, baca alasannya mengapa di sini.

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *