Apakah Tuhan itu benar-benar ada?

apakah tuhan itu benar-benar ada

Apa Tuhan itu benar ada kehadirannya?

Apa bumi dan kita manusia benar diciptakan Tuhan?

Jika iya mengapa banyak kejahatan di dunia, jika Tuhan itu baik?

Atau kaum evolusionis yang benar dengan mengatakan dunia ini berasal dari proses evolusi?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak lazim dipertanyakan di negara demokratis seperti negara kita Indonesia ini apalagi dengan banyaknya berbagai penganut agama yang ada di Indonesia.

Namun seringkali kita mempertanyakan pertanyaan tersebut mungkin tidak secara frontal tapi di hati kita.

Banyak kebingungan yang muncul ketika kita mencoba mencari jawabannya.

Kita bisa jadi mempercayai Tuhan tapi menyangkal kalau kehadiran Nya itu nyata.

Dalam konteks ini saya akan membahas Tuhan bukan bedasarkan agama.

Dasarnya agama itu bukan Tuhan dan Tuhan itu bukan agama.

Kita sering menggabungkan konsep tersebut padahal sebenarnya artinya berbeda.

Agama berasal dari bahasa sanskerta.

A berarti tidak. Gama berarti kacau.

Agama artinya tidak kacau. Jadi agama ada agar kehidupan manusia tidak kacau.

Agama sebenarnya wadah yang diciptakan manusia agar kehidupan mereka tidak kacau.

Bayangkan saja jika rumah Anda tidak ada agama? Jelas semuanya kacau balau.

Rumah yang ada aturan saja bisa kacau, apalagi sebuah kota tanpa aturan? tanpa agama?

Aneh jika rumput, langit, burung yang tidak memiliki akal budi bisa teratur sedangkan kehidupan manusia penuh kekacauan.

Agama sesungguhnya hanya sistem aturan yang dibuat manusia demi ketidakkacauan tercipta sekaligus sebagai pembeda iman yang dianut masing-masing orang.

Bayangkan saja jika tidak ada istilah agama, tentu tidak mungkin kita bertanya keseseorang, hei Tuhanmu siapa?

Tentu itu tidak sopan. Jadi mengerti sampai di sini? Agama bukanlah Tuhan.

Mari kita lihat apakah Tuhan itu benar ada.

 

Jika Tuhan itu ada, mengapa banyak kejahatan di dunia ini?

Jika Tuhan itu baik mengapa banyak kejahatan di dunia ini.

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas.

Bukan robot, jadi manusia bisa memilih mau mengikut Tuhan atau tidak.

Betapa senangnya Tuhan jika manusia dengan kehendak bebasnya memilih mau mengikuti jalan Tuhan, jelas tidak ada ‘feel’ nya jika Tuhan memprogram manusia seperti robot untuk menyembah Nya otomatis sehari 3x.

Sama seperti kita tahu lampu merah di jalan itu perintah stop, tapi kita tetap bisa melanggarnya karena kita punya kehendak bebas. Kita bisa memilih mau yang baik atau yang jahat.

Tidak heran banyak kejahatan di dunia, karena manusia memang memilih melakukan perbuatan yang jahat.

 

Manusia itu ‘kosong’

Blaise Pascal mengatakan ada 9 lubang di tubuh manusia namun ada 1 lubang yang tidak bisa diisi apapun.

Manusia sadar sebenarnya ada bagian hatinya yang kosong dan tidak bisa diisi apapun selain Tuhan.

Anda dan saya pun sadar akan hal ini, hanya kadang kita berkeras hati menolaknya.

Banyak yang mencoba mengisi kekosongan ini dengan bersenang-senang, jalan-jalan, dan sebenarnya sadar itupun tidak bisa mengisi kekosongannya.

Jean Paul Sartre, filsuf eksistensialisme mengatakan jika manusia itu kosong mengapa manusia itu ada? Jika manusia itu ada mengapa manusia itu kosong?

Dia melanjutkan : satu-satunya pertanyaan yang tidak bisa saya jawab adalah mengapa saya tidak bunuh diri saja?

Orang yang terus menolak Tuhan akan sampai dikesimpulan tersebut cepat atau lambat.

Anda pun sebenarnya sadar akan masalah ini.

 

Kebodohan teori evolusi

Jika evolusi itu benar maka Tuhan itu tidak ada, jika Tuhan ada, maka evolusi salah.

Kita sejak dulu banyak dibodohi oleh orang pintar yang sebenarnya juga bodoh.

Sejak SD sampai SMA kita selalu menemukan pelajaran evolusi, teori big bang dibuku pelajaran kita.

Padahal teori evolusi sebenarnya hanya teori bodoh (akan saya bahas selengkapnya bagian ini di artikel mendatang) yang diciptakan oleh orang-orang yang mencoba menolak Tuhan namun tidak dapat.

Berikut yang saya kutip dari http://www.big-bang-theory.com/

Teori big bang mengatakan alam semesta tercipta dari yang namanya singularity.

The Big Bang theory is an effort to explain what happened at the very beginning of our universe. Discoveries in astronomy and physics have shown beyond a reasonable doubt that our universe did in fact have a beginning. Prior to that moment there was nothing; during and after that moment there was something: our universe. The big bang theory is an effort to explain what happened during and after that moment.

According to the standard theory, our universe sprang into existence as “singularity” around 13.7 billion years ago. What is a “singularity” and where does it come from? Well, to be honest, we don’t know for sure. Singularities are zones which defy our current understanding of physics. They are thought to exist at the core of “black holes.” Black holes are areas of intense gravitational pressure. The pressure is thought to be so intense that finite matter is actually squished into infinite density (a mathematical concept which truly boggles the mind). These zones of infinite density are called “singularities.” Our universe is thought to have begun as an infinitesimally small, infinitely hot, infinitely dense, something – a singularity. Where did it come from? We don’t know. Why did it appear? We don’t know.

Lihat bagian yang di bold tersebut, mereka mengatakan alam semesta ini berasal dari singularity tapi mereka sendiri bahkan tidak tahu dari mana singularity itu berasal, untuk apa, dan mengapa singularity itu muncul? We don’t know. Inilah kebodohan.

 

Tidak ada yang mutlak di dunia?

Seorang professor mengatakan “saya pikir tidak ada satu hal pun yang mutlak di dunia”

Mahasiswa : “sir, apa anda benar-benar yakin dengan perkataan anda?”

Professor : “tentu saja”

Mahasiswa : “sir, apakah perkataan anda tadi mutlak?”

Professor : (kebingungan)

Jika professor tersebut mengatakan tidak ada yang mutlak di dunia, berarti perkataannya sendiri tidak mutlak, tidak ada artinya, dan tidak bisa membuktikan bahwa tidak ada yang mutlak di dunia.

Jika dia mengatakan perkataannya mutlak, berarti professor tersebut menyangkal perkataannya sendiri.

Jadi apakah ada yang mutlak di dunia? Jika tidak ada, maka Tuhan pun tidak ada, karena perkataan Tuhan pasti mutlak dan benar.

Anehnya manusia sendiri adalah makhluk yang memerlukan suatu tempat untuk dia berpijak atau pegangan hidup.

Manusia memerlukan sesuatu agar dia bisa terpusat padanya. Inilah yang menjadikan manusia yang sesungguhnya. Tanpanya kita hanya jadi seperti hewan yang tinggal menunggu waktu mati.

Manusia hidup melebihi hanya sekedar makan dan minum.

Untuk itu manusia memerlukan pegangan yang mutlak bukan yang tidak jelas.

Sejak dulu kita berpegang pada hal-hal yang sebenarnya tidak cocok menjadi pegangan hidup kita.

Terpusat pada teman, pacar

Kita sering mendengarkan perkataan teman kita dan hidup oleh perkataan tersebut. Ada yang mengatakan kita jelek, ada yang mengatakan kita buruk, menarik, baik.

Jika kita terpusat pada teman, kita akan menjadi pribadi yang tidak jelas, sehingga berusaha keras mendapatkan pengakuan mereka. Padahal perkataan mereka belum tentu benar.

Terpusat pada pacarpun sama, hari ini pacar Anda mengatakan Anda jahat, Anda pun stress seharian, padahal seharusnya kita tidak berperilaku oleh karena perkataan orang lain. Kita bisa mengizinkan diri kita stress atau tidak.

Terpusat pada idola

Orang yang terpusat pada idola bisa menjadi orang yang ‘mengerikan’

Dia bisa saja meniru semua yang idolanya pakai, lakukan, katakan.

Sayangnya semua ini akan hancur ketika idolanya berubah.

Bayangkan artis yang anda puja saat ini ternyata besok mendekam di penjara.

Terpusat pada orang tua

Bukan berarti salah atau tidak hormat jika kita tidak menyandarkan diri pada orang tua.

Tapi orang tua pun kadang belum tentu benar.

Misalnya saja ada orang tua yang jika ingin anaknya disayang olehnya maka harus memperoleh nilai yang baik. Jika sampai jelek anak tersebut bisa kehilangan identitasnya.

Terpusat pada harta

Ada yang menjadikan uang, barang, harta sebagai pusat hidupnya.

Apa yang akan terjadi seandainya harta orang tersebut lenyap?

Terpusat pada diri sendiri, pekerjaan, musuh, hobi, sekolah, dan sebagainya

Pada dasarnya kita tidak bisa memusatkan diri kita pada hal yang tidak mutlak.

Jika tempat kita terpusat berubah kita bisa ikut berubah. Jika sampai tempat kita berpusat berubah menjadi hal yang buruk kita pun jadi buruk . Tidak heran yang kejahatan di dunia.

Ini sangat tidak baik, kita memerlukan tempat yang mutlak.

Jadi apakah ada pegangan yang mutlak untuk hidup kita?

Untuk itu yang terbaik adalah jika kita berpegang pada prinsip.

Yes, terpusat pada prinsip.

Berarti kita perlu berpegang pada prinsip yang mutlak.

Dari mana asalnya? Tentu saja dari Tuhan yang mutlak.

Bayangkan jika tidak ada Tuhan dan tidak ada prinsip yang mutlak.

Misalnya Anda berprinsip dan mengatakan jangan membunuh, membunuh itu salah.

Atas dasar apakah perkataan Anda itu benar, mengapa membunuh bisa salah? Siapa Anda? Anda belum tentu benar.

Tapi jika Tuhan mengatakan jangan membunuh, maka kita bisa tahu perkataan itu benar dan mutlak, karena Tuhan itu sudah pasti benar dan absolut. Kita bisa berpegang pada prinsip yang dari Tuhan itu tersebut yaitu jangan membunuh, karena itu salah.

Lalu bagaimana dengan matematika, fisika, ilmu-ilmu pengetahuan alam, bukankah itu mutlak, bukannya 1+1 = 2 adalah mutlak.

Benar, sayangnya yang mutlak dalam alam hanya mutlak di sebatas alam, tidak mutlak di kehidupan manusia. Sampai sekarang sedahsyat apapun ilmu alam belum bisa menyelesaikan masalah 2 orang yang sedang berkelahi.

Untuk itu kita perlu memegang prinsip yang mutlak yang hanya dari Tuhan.

Alam tidak pernah menjelaskan mengapa kita tidak boleh membunuh.

Anehnya tanpa diberitahu siapun, hati nurani kita mengatakan yang sebenarnya, kalau membunuh itu salah. Jika tidak berasal dari Tuhan, maka berasal dari mana lagi?

Karena itu mengatakan tidak ada Tuhan sebenarnya adalah mustahil.

Bagaimana menurut Anda? (Silahkan sampaikan pendapat Anda melalui komentar di bawah)

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *