5 Jebakan Psikologi yang Bisa Membuat Hidup Anda Berantakan

7 Jebakan Psikologi yang Bisa Membuat Hidup Anda Nyungsep Dalam Kekelaman

Pertanyaan : Sadarkah Anda emosi/psikologi yang memengaruhi kita setiap hari bisa menghancurkan hidup kita?

Anda beberapa jebakan psikologi yang kita bahkan tidak tahu jika itu salah dan bahayanya kita menganggapnya sebagai sesuatu yang benar.

Tidak peduli? Tidak masalah, yang namanya sel kanker tidak menjadi ketakutan orang-orang jika masih kecil dan belum terdeteksi.

Hanya tunggu sampai saatnya saja dia berkembang, muncul begitu saja, dan stadium IV!

Dan sayangnya sudah terlambat

Perangkap psikologi ini juga seperti kanker jiwa mini. Tidak penting, tidak berarti, tiba-tiba hidup kita nyungsep saja dalam lembah yang kelam.

Mari kita lihat apa saja jebakan psikologi tersebut dan singkirkan kerikil kecil yang berujung maut dalam hidup kita.

1.Jangan Memberitahu Mimpimu pada Orang Lain

Aneh? Biasa kita mendengar untuk menceritakan visi/impian kita ke orang lain seakan memproklamirkan kita akan mencapai visi kita.

Bukannya law of attraction juga bilang demikian? Ceritakan ke orang lain agar seakan-akan alam semesta ini mendukung kita untuk mencapai apa yang kita katakan.

Penelitian yang W. Mahler lakukan pada tahun 1933 menunjukkan ketika kita menyampaikan visi kita, kemungkinan besar kita tidak akan mencapai impian kita.

Mengapa?

Karena otak kita sudah membuat kepercayaan tersendiri kalau kita sudah mencapai apa yang kita inginkan, sehingga mengurangi motivasi kita demi mimpi itu.

4 tes yang berbeda juga dilakukan pada 63 orang memperlihatkan orang yang menyimpan keinginan mereka, kemungkinan besar akan mencapai visi mereka daripada yang mengatakannya pada orang lain.

Impian ini juga berlaku pada apa yang kita mau sehari-hari misalnya mau diet hari ini atau jogging 1km per hari.

Tidak perlu semua hal orang lain perlu tahu, kadang lebih baik diam.

Jika ingin cerita pun, ceritalah ke orang yang tepat. Tidak semua orang mau tahu dan mau mengerti kita. Kita juga begitu kan?

2. Jangan terlalu pelit

Uang tidak mengenal gender, ras, agama, suku, dan identitas apapun.

Semua hal yang berhubungan dengan uang seringkali membuat kita menjadi irasional.

Tidak heran sering disebut : money is root of all evil.

Bahkan ditahun 2005, Kelompok psikolog dan ekonom pernah mengajar sekelompok monyet konsep tentang uang. Tidak lama setelah itu, monyet-monyet tersebut mulai melakukan praktek prostitusi.

Uang sangat berkaitan dengan psikologi, emosi seperti greedy, pelit membuat orang-orang bisa saling membunuh karena uang.

Hubungan dan pertemanan pun suka rusak akibat uang.

Untungnya semua masalah selalu ada antidote nya.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memberi.

Penelitian yang Harvard Business School lakukan memperlihatkan jika ingin membeli kebahagiaan, justru kita harus mengeluarkan uang untuk orang lain.

Memberikan orang lain sesuatu, mentraktir orang lain, intinya memberi.

Kita akan lebih bahagia dalam memberi, posisi tangan diatas selalu lebih baik kan daripada dibawah?

3. Disonansi Kognitif

Disosansi kognitif mudahnya adalah seseorang memiliki ketidaknyamanan dan berusaha mengurangi perasaan tidak nyaman tersebut.

Contohnya?

Ada orang merokok, dia tahu itu salah, tapi tetap melakukannya.

Dia bahkan tahu kalau merokok itu bisa menyebabkan kanker dan penyakit lainnya.

Karena sudah tahu, dia tidak nyaman dengan hal tersebut, dia mencari pembenaran untuk mengurangi ketidaknyamanannya.

Kemudian dia beralasan, merokok itu membuat pikiran tenang, fresh sesaat, jadi bisa berpikir, bisa menahan lapar, kalau enggak merokok rasanya ada yang kurang.

Saya tidak bermaksud menyinggung Anda yang merokok (bagus juga kalau kesinggung)

Tapi ini salah contoh yang sangat sering kita temui setiap hari, bahayanya ini bukan hanya bagi perokok saja.

Banyak hal yang kita lakukan persis disonasi kognitif ini.

Kita melakukan hal yang salah, tetapi kita anggap benar, dan kita teruskan begitu saja.

Sudah tahu hidup susah, tapi tidak mau bekerja keras, setiap hari malas-malasan, tidak berbuat sesuatu yang berarti dengan alasan santailah, masih umur segini kok, sayang banget masih muda, nanti sudah kerja momennya tidak bisa kembali lagi. Hei, hei biaya hidup dan inflasi terus meningkat ngomong-ngomong.

Jadi bagaimana mengatasi masalah ini?

You are what you think.

Ubah cara pikir Anda, apa yang Anda lakukan juga akan berubah, hidup Anda juga akan berubah.

Keyakinan Anda kalau merokok itu tidak salah berubah, Anda akan berhenti merokok.

Jika Anda berpikir kuliah tidak penting, kuliah Anda bisa berantakan.

Namun jika Anda berpikir kuliah memang tidak penting dan bukan segalanya, tapi melalui kuliah Anda bisa membanggakan orang tua Anda, Anda akan kuliah dengan dahsyat.

So choose what you believe now dan hidup Anda akan tergantung apa yang Anda percayai.

4. Dua insting : thanatos dan eros

Dalam psikoanalisa sebagai teori yang Sigmund Freud ciptakan menyatakan bahwa ada 3 hal yang mendasari struktur diri kita, yaitu Id, Ego, dan Superego.

Psikoanalisa ini sudah pernah saya ulik dalam artikel Kenali dirimu sendiri atau hidupmu sama seperti binatang

Id disebut juga sebagai insting yang membuat kita bertahan hidup (makan, minum, bekerja) dan dalam insting ini ada 2 pokok penting yaitu insting thanatos dan eros.

Eros disini bukan berarti libido hawa nafsu, tetapi insting yang mendorong hal positif, sedangkan thanatos kebalikannya, yaitu insting yang menghancurkan, negatif.

Setiap harinya diri kita selalu berhadapan dengan kedua insting ini, dan Anda alami setiap hari.

Misalnya : Anda bangun pagi dan ingin 5 menit lagi padahal 30 jam lagi kuliah dimulai. Jika telat Anda tahu akibatnya karena yang mengajar dosen killer. Disini thanatos dan eros Anda bertarung.

Anda mengalah ke thanatos dan hasilnya jelas bablas tidur, bisa jadi malah tidak masuk kelas.

Contohnya lagi : Sudah tahu besok ujian tapi sudah malam belum belajar sama sekali. Eros dan thanatos Anda bergulat lagi, dan lagi-lagi Anda mengizinkan thanatos yang menguasai Anda. Hasilnya? jadilah SKS (sistem kebut semalam).

Thanatos acapkali lebih enak dari eros, namun hasil akhirnya tidak. Kita harus berhati-hati dan harus berusaha menang dari insting thanatos yang bisa menghancurkan kita.

Pepatah lama tidak pernah salah : bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

5. Survivor Bias

Kita suka mengeneralisasi sesuatu.

Apa yang terjadi sebagian kecil kita anggap mewakili semuanya.

Ada orang beragama A salah melakukan sesuatu, kita menganggap kalau semua orang yang beragama A , bahkan agama A itu salah dan sesat.

(Ini sering terjadikan di Indonesia)

Apalagi menyangkut ras, orang itu kasar, berarti suku orang tersebut semuanya kasar.

Orang ini pelit, berarti suku orang tersebut semuanya pelit.

Tidak heran hoax mudah tersebar di Indonesia, ada broadcast yang isinya abal-abal di WA pun baru baca sesaat langsung kita percayai itu sepenuhnya benar dan kita sebar kemana-mana padahal isinya salah total.

Apalagi berita-berita yang unik seperti mahasiswa DO tapi sukses seperti Steve Jobs, Bill Gates.

Langsung kita menganggap kuliah tidak penting, padahal orang-orang seperti mereka paling 1-2% dari semua populasi yang ada.

Just info kalau media itu pasti mencari berita yang memiliki nilai unik dan kontroversial, yang jarang terdengar.

Lebih banyak orang yang DO dan akhirnya menjadi pengangguran. (yang begini mana mungkin masuk berita karena sudah pasti ketahuan hasilnya)

Satu-satu cara mengatasi ini dengan Don’t Just Believe.

Question Everything.

Selalu tanamkan dikepala untuk mempertanyakan segala sesuatu sebelum kita percayai.

Segala sesuatu harus diuji dari kaum agamawan sekalipun, karena mereka juga manusia toh? Juga bisa salah.

Generalisasi segala sesuatu ini menjadikan kita pribadi yang irasional, kalau logika sudah tidak berjalan, hidup ini mau dibawa kemana?

Jadi selalu pertanyakan segala sesuatu seperti anak kecil.

Keep in Mind.

Bermanfaat?

Share ya

Follow Us On Social Media :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *