Bolehkah kita Menjadi “Yes Man”? Apakah Bahayanya?

Bolehkah kita Menjadi “Yes Man”?

Bolehkah kita Menjadi “Yes Man”?

Sebenarnya yes man adalah  . . .

Yes man artinya?

Siapa sangka Jebakan berkata ‘ya’ dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat hidup kita nyungsep. Mari menyimak apa itu jebakan yes man melalui sinopsis film yes man berikut :

Carl adalah seorang pria pemurung dan penyendiri, dan semakin parahlah tabiatnya setelah perceraiannya dengan istrinya Stephanie.

Continue reading

5 Jebakan Psikologi yang Bisa Membuat Hidup Anda Berantakan

7 Jebakan Psikologi yang Bisa Membuat Hidup Anda Nyungsep Dalam Kekelaman

Pertanyaan : Sadarkah Anda emosi/psikologi yang memengaruhi kita setiap hari bisa menghancurkan hidup kita?

Anda beberapa jebakan psikologi yang kita bahkan tidak tahu jika itu salah dan bahayanya kita menganggapnya sebagai sesuatu yang benar.

Tidak peduli? Tidak masalah, yang namanya sel kanker tidak menjadi ketakutan orang-orang jika masih kecil dan belum terdeteksi.

Hanya tunggu sampai saatnya saja dia berkembang, muncul begitu saja, dan stadium IV!

Continue reading

[My Story #1] Bosan hidup flat? Lu sekali2 perlu coba yg gw lakuin ini, dijamin seru meski deg2an abis

Jadi ceritanya gw punya acara boot camp yang diadain sama salah satu komunitas anak muda zaman now yaitu AOG, acara ini jarang banget diadain biasanya cuma regional pusatnya yaitu Surabaya saja yang mengadakan. Uniknya tahun 2017 ini acara tersebut terbuka untuk satu Indonesia dan bakal dilaksanakan di Surabaya, jadi ribuan anak muda dari berbagai pulau bakal ikut. Boot camp ini bakal lebih ke acara spiritual btw & pengembangan diri. Waktu itu dari bulan Februari sudah terbuka pendaftarannya dan acaranya masih 19-21 juni 2017 pas waktu liburan sekolah. Sayang banget dong kalau gak ikut, apalagi kuliah tinggal semester akhir, kapan lagi? Lagian gk selamanya bakal jadi anak muda 🙁

Continue reading

Caramu Berkomunikasi & Berpendapat Menentukan Kesuksesanmu

Serombongan mahasiswa berkumpul di sebuah warung kopi malam-malam. Mereka asyik memperdebatkan siapa yang bakal jadi juara liga Inggris musim ini. Bayangkanlah dirimu sebagai A di malam itu. Kamu adalah mahasiswa paling pintar punya klub jagoan bernama Liverpool. Sementara tiga lawan debatmu sama-sama suka Manchester United. Lalu mulailah kamu di-bully. Sebabnya sepele. Kamu nggak punya argumen kuat untuk membalas pertanyaan tentang kenapa Liverpool lebih hebat dari Manchester United. Padahal kamu mahasiswa berprestasi. IP-mu tinggi. Lalu kenapa kamu tidak bisa berargumen lebih baik dibandingkan lainnya? Seharusnya kamu kan bisa berpendapat lebih baik daripada mereka? Karena tidak bisa mengungkapkan pendapat kamu marah, dan meninggalkan warung kopi itu. Kamu pulang ke rumah dengan perasaan dongkol karena klub kesayanganmu diledek habis-habisan. Yah, terkadang ada saja tipe orang yang memang secara akademis bagus. Nilai-nilainya di kampus termasuk tinggi dan dia termasuk salah satu murid terpintar di kampus. Akan tetapi ternyata dia adalah orang yang lemah dalam hal komunikasi verbal, alias nggak bisa mengutarakan pendapatnya dengan baik. Kayaknya ada banyak orang dengan tipe seperti itu. Mungkin kamu salah satunya. Memang sih, ketidakmampuan untuk mengutarakan pendapat di depan orang banyak bukan hanya dialami satu dua orang. Umumnya mereka yang lemah dalam komunikasi verbal punya banyak alasan untuk itu. Salah satunya adalah ketakutan untuk mengemukakan pendapat. Saya pernah mengalami kesulitan mengemukakan pendapat di hadapan banyak orang. Ketakutan saya yang terbesar adalah pendapat saya tidak diterima, dan saya kemudian merasa diri saya lemah. Jadi untuk menghindari kemungkinan macam itu, saya memilih diam dan tidak pernah berusaha mengemukakan pendapat di dalam diskusi apapun. Lagipula, dulu saya adalah orang yang sebisa mungkin berusaha menghindari ketegangan konflik karena perbedaan pendapat. Tetapi cara seperti ini salah, sebab berbagi pendapat sebetulnya adalah hal lumrah. Kemampuan kita memberi opini adalah anugerah sang pencipta, yang diberikan dengan tujuan supaya orang bisa berkomunikasi dengan sehat. Plus, melontarkan pendapat sebetulnya juga bentuk kebebasan. Jadi siapa pun, termasuk kamu, punya kebebasan melontarkan pendapat tertentu. Simon Clarke menyebut dalam artikelnya berjudul The Self-Development Argument for Individual Freedom, bahwa kebebasan bagus untuk mengembangkan diri. Kebebasan membantumu untuk mengembangkan kapasitas diri serta mental. Jadi, kenapa mesti membatasi kebebasanmu untuk mengungkapkan pendapat? Rasanya itu nggak sehat buat kamu. Tapi bagaimana dengan kamu yang kurang berani mengungkapkan pendapat karena takut salah atau takut menyebabkan konflik? Ada beberapa cara untuk mengatasinya. Begini caranya: 1.Cobalah menjadi pendengar yang baik dulu Pada dasarnya seorang manusia mungkin selalu minta didengarkan. Dan biasanya orang yang selalu minta didengarkan adalah orang yang egois. Dalam sebuah diskusi atau perbincangan, setiap orang yang terlibat cenderung mau menang sendiri. Bila kamu termasuk orang itu, maka cobalah untuk mendengarkan opini orang lain dengan baik. Resapi pelan-pelan apa yang diomongkan orang, kemudian menanggapinya pelan-pelan. 2. Utarakan pendapat walau sulit Setelah belajar menyimak apa kata orang, sekarang saatnya kamu mengutarakan pendapat pribadimu. Orang yang lemah kemampuan verbalnya akan merasa sulit awalnya, namun seiring waktu berjalan kamu harus mencoba untuk mengemukakan pendapatmu sendiri. Kemukakan pendapat dengan cara serasional mungkin. Tawarkanlah solusi spesifik untuk suatu masalah yang memunculkan perbedaan pendapat. Bila tidak ada solusi, bisa jadi masalahnya hanya karena miskomunikasi (atau memang lawan bicaramu selalu mau menang sendiri). Kalau memang lawan bicaramu maunya menang sendiri, sebaiknya kamu melakukan hal ketiga. 3. Tetap kalem dalam perdebatan panas Tetap kalem walau itu sulit. Dengan begitu kamu bisa menurunkan kadar stres yang muncul karena sebuah perdebatan (atau pem-bully-an). Ketika kamu bisa tetap kalem dalam situasi paling panas sekalipun, maka kamu bisa berpikir logis dan membuat keputusan rasional. Jangan malah marah-marah atau bertindak defensif, karena itu akan membuatmu tak bisa menerima pendapat orang lain. 4. Percaya diri Kamu bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan, hanya jika kamu terbiasa melakukannya. Untuk melontarkan argumen, yang harus kamu miliki hanya kepercayaan diri dan keyakinan untuk melontarkan argumenmu. 5. Selalu bersikap sopan ketika beragumen Sudahkah kamu jadi pendengar yang baik; sudahkah kamu berani mengutarakan pendapat; sudahkah kamu bersikap kalem dalam perdebatan panas; sudahkah kamu percaya diri? Bila semua sudah dilakukan, hal berikutnya adalah bersikap sopan. Bila kamu tidak setuju dengan pendapat orang lain, misalnya, maka kemukakanlah pendapatmu dengan cara begini: “pendapatmu itu oke. Tapi bolehkah aku menyampaikan pendapatku dari sudut pandang lain?” Dengan melakukan hal itu, maka lawan bicaramu akan lebih menghargaimu. Lalu mengapa melatih kemampuan berpendapat jadi sesuatu yang penting? Kamu nantinya akan bertemu banyak orang, bahkan mungkin bakal melakukan pekerjaan tertentu dalam sebuah tim yang diisi beberapa orang. Karena itulah mengembangkan kemampuan komunikasi verbal (atau berbagi pendapat dan opini bersama orang lain) jadi hal penting untuk dipikirkan mulai sekarang. Sebab kamu tentu tidak ingin dianggap sebagai orang yang biasa-biasa saja, bukan?

credit : Elliott Chau

 

Serombongan mahasiswa berkumpul di sebuah warung kopi malam-malam. Mereka asyik memperdebatkan siapa yang bakal jadi juara liga Inggris musim ini.

Bayangkanlah dirimu sebagai A di malam itu. Kamu adalah mahasiswa paling pintar punya klub jagoan bernama Liverpool. Sementara tiga lawan debatmu sama-sama suka Manchester United.

Lalu mulailah kamu di-bully. Sebabnya sepele. Kamu nggak punya argumen kuat untuk membalas pertanyaan tentang kenapa Liverpool lebih hebat dari Manchester United.

Padahal kamu mahasiswa berprestasi. IP-mu tinggi. Lalu kenapa kamu tidak bisa berargumen lebih baik dibandingkan lainnya? Seharusnya kamu kan bisa berpendapat lebih baik daripada mereka?

Continue reading